Showing posts with label Prosa. Show all posts
Showing posts with label Prosa. Show all posts

Monday, May 30, 2016

Pada Sebuah Teras (Sebuah Cerpen)

Bau tanah basah selepas hujan turun, manja sinar matahari di antara pukul 8 hingga 10 pagi yang menyusup diam-diam melalui dedaunan pada pohon, tujuh per delapan beat musik jazz yang mengayun dengan was-was yang disertai nada-nada lydian dan dorian namun dengan demikian ia menciptakan dinamika mood yang kontras tiap bar-nya bagi siapa pun yang mendengar, campuran aroma robusta yang telah digiling dengan teliti serta diseduh dengan air panas melalui proses French press dan aroma tembakau yang dibakar, merupakan beberapa dari banyak hal yang aku sukai. Kesempurnaan bagiku adalah dengan dapat kunikmati keseluruhan hal tersebut pada satu waktu. Itu adalah terjadi di pagi ini. Pagi ini adalah tepat pukul delapan lewat empat puluh tiga di sebuah teras kedai kopi. Teras itu memiliki desain interior dengan konsep mid-century modern style yang terdefinisi dengan mayoritas material berbahan kayu dan dengan adanya lampu model sputnik chandelier yang tergantung di plafon teras yang langsung menghadap ke kebun yang ditanami berbagai jenis pohon yang aku tidak ingin klasifikasikan jenisnya satu per satu.

Aku menghirup aroma kopi yang baru saja berpindah dari baki seorang waiters ke atas meja berbahan jati tempat aku berada pagi ini kemudian aku menyeruputnya dengan tidak tergesa-gesa.

“Pahit,” ujarku tak bersuara.

Memang aku tidak terbiasa untuk menikmati kopiku dengan tambahan gula sehingga membuat rasanya menjadi tidak pahit. Aku lebih suka menikmatinya begitu saja; hangat dan tanpa gula.

“Nikmat.”

Aku menutup seruput kopi keduaku untuk meninggalkannya sejenak agar beberapa derajat celcius yang terukur pada cangkir kopi ini berubah skalanya menjadi sedikit lebih kecil daripada sebelumnya sambil aku menelusuri beberapa headline berita yang terpampang pada koran hari ini.

Tepat pada sembilan lewat tujuh belas, bel gantung di pintu depan kedai kopi itu berbunyi bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut agar dengan demikian bunyi itu memberi tanda bahwa ada pengunjung yang hadir. Aku secara tidak bersamaan dengan bunyinya bel itu melemparkan pandanganku ke sumber bunyi tersebut untuk mengidentifikasi wajah-wajah yang baru saja hadir di pagi ini. Oh, rupanya hanya satu wajah. Sosok wanita berkacamata dengan rambut hitam panjang sepertiga punggung yang warna kulitnya kuning langsat. Ia mengenakan kemeja putih dengan celana bahan panjang berwarna hitam yang dilengkapi dengan sepatu wedges berwarna flax. Serta lihat lah itu tas jinjingnya yang berbahan kulit. Cantik.

Aku sangat mengaggumi segala ciptaan Tuhan. Alam semesta, inspirasi yang hadir ketika kaum kulit gelap sedang berelegi sehingga mereka menyalurkannya ke dalam nada-nada indah yang orang sebut sebagai musik jazz, dan tentu saja aku mengaggumi dia yang baru saja masuk ke dalam kedai kopi ini dan masuk ke dalam diafragma mataku untuk kemudian mungkin diteruskan, ya, mungkin diteruskan ke dalam hati. Sejenak aku memandangnya serta sejenak kemudian pula aku menyadari sesuatu. Dia adalah kawanku. Kawanku sepuluh tahun yang lalu. Di universitas itu. Ya, itu dia.

Dia tidak biasa bagiku, tepatnya sepuluh tahun yang lalu. Aku pernah mengagumi dia dan tidak sempat aku mengatakan kepadanya oleh sebab kesempatan yang tidak memungkinkan dan alam semesta yang aku rasa dulu tidak pernah mendukungku. Sepuluh tahun kemudian, di tempat ini, aku bertemu dia. Apakah ini bentuk dukunganmu, alam?

Dengan agak ragu namun tetap berpegang pada rindu sepuluh tahun tak berjumpa dan keyakinanku atas permainan alam semesta di pagi ini aku menghampirinya untuk menyapa.

Hai,” sapaku hangat untuknya.
“Ya? Siapa, ya?” Dia menyapaku kembali dengan refleks yang menurutku wajar sebab aku asing baginya.
Ini aku, kawanmu sepuluh tahun lalu di universitas itu.”
“Ya, Tuhan! Kamu? Apa kabar?” Ia terkejut, terlihat dari pupil matanya yang membesar dan ekspresinya yang berubah drastis.
Baik. Kamu bagaimana? Yuk, duduk di mejaku.” Aku mengajaknya untuk berbicara.
Dia mengiyakan ajakanku tadi.

Lalu kini kami berada di meja tempatku semula berada tadi, melepas rindu melalui kata demi kata, cerita demi cerita, serta tawa. Jangka waktu yang terlewat sehingga menciptkan jarak yang begitu renggang di antara kami kini seolah tidak bermakna lagi. Kami kembali pada sepuluh tahun yang lalu melalui percakapan ini.

Mau pesan kopi?” Aku menawarkan.
“Aku bawa botol air mineralku, ada di tasku.” Ia mengeluarkan botolnya sambil tersenyum bersamaan dengan bunyi smartphone yang menurut pendengaranku berasal dari dalam tasnya.
“Halo? Oh, iya. Aku di dalam ya. Ada. Sama kawan lamaku. Tak direncanakan kok. Iya. Oke. Dah.”
Ia menjawab panggilan masuk tersebut.
“Sampai mana kita tadi? Ah iya!”

Lalu kami saling berbicara kembali. Berbicara tentang hal-hal di masa lalu hingga masa kini. Aku senang berbicara dengannya, tatap matanya selalu terlihat berbinar menandakan bahwa ia tertarik dengan hal-hal yang aku utarakan. Senyumannya masih sama untuk membuatku terkagum padanya waktu sepuluh tahun yang lalu itu. Sekarang pun aku terkagum. Apa ini maksudmu, alam? Bantu aku.

Di saat kami sedang berbicara, bel gantung di pintu depan kedai kopi itu berbunyi bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut agar dengan demikian bunyi itu memberi tanda bahwa ada pengunjung yang hadir. Aku secara tidak bersamaan dengan bunyinya bel itu melemparkan pandanganku ke sumber bunyi tersebut untuk mengidentifikasi wajah-wajah yang baru saja hadir di pagi ini. Oh, rupanya hanya satu wajah. Dia pun melemparkan pandangannya ke sumber bunyi tersebut untuk mengidentifikasi. Seorang dengan perawakan yang tinggi dilengkapi dengan bentuk dada yang membidang. Ia mengenakan kemeja putih dengan celana bahan panjang berwarna hitam yang dilengkapi dengan sepatu docmart berwarna cinnamon untuk menyatakan gaya casual-nya.

“Hei! Di sini, lho. Di sini!” Secara tiba-tiba dia melambaikan tangan untuk memanggil pria itu. Pria tersebut lalu membalas lambaian tangannya dan menghampiri tempat kami berada.

Sesaat pria tersebut berada di tengah-tengah keberadaan kami, dia berbicara kepada pria itu.

“Kenalkan, ini kawanku di universitas itu sepuluh tahun yang lalu.”

Aku tersentak, diam untuk sejenak sambil bertanya-tanya banyak. Pria itu menjulurkan tangannya sambil menyebutkan nama dan tersenyum. Aku membalas menjulurkan tanganku untuk menjabat tangannya sambil menyebutkan namaku.

Salam kenal,” ujarku pada pria itu setelah berjabat tangan.

“Aku pesan untuk take away lalu kutunggu kamu di luar, ya?” Pria itu berkata kepada dia.
“Oke,” dia merespon ucapan pria itu.

Setelah itu kami saling berbicara kembali untuk beberapa saat sebelum kulihat dia membereskan beberapa isi tasnya yang sebelumnya ia keluarkan untuk diletakkan di atas meja jati ini. Dia meminta izinku untuk pergi mendahuluiku. Dengan tersenyum namun di dalam hati sebenarnya tak ingin, aku mengiyakan.

Mau pergi ke mana kamu sekarang?”
“Ke luar, menemuinya.” Jawab dia.
Pria tadi? Oh, aku sampai lupa bertanya. Siapa pria itu?”
Dia berdiri setelah membereskan isi tasnya, merapikan tempat duduknya ke posisi semula yakni berada rapat dengan ujung meja jati itu, lalu merapikan rambutnya sambil tersenyum dan menjawab pertanyaan yang tadi aku berikan.

“Suamiku.” Katanya demikian lalu melanjutkan.
“Sampai jumpa lagi?”

Aku kembali tersentak, diam untuk sejenak sambil bertanya-tanya banyak. Lalu aku menjawab.

Ya, sampai jumpa lagi.”

Dia kemudian berlalu dari pandanganku, berlalu keluar dari diafragma mataku bersamaan keluar dari hatiku, menyisakan rongga sedemikian besar-kecil luasnya namun sangat terasa bagiku untuk dapat diartikan sebagai rasa hampa. Ia pernah sesaat ada, kini ia kembali tak ada. Sepuluh tahun aku menunggu untuk alam merancang permainannya di pagi ini, lalu berlalu begitu saja. Kini waktu menunjukkan sepuluh lewat sembilan belas. Aku menenggak habis cangkir kopiku yang sudah lama dingin itu. Ya, kopiku masih pahit seperti semula tadi aku mulai meminumnya. Seperti saat tadi ia masih hangat hingga sekarang ia berganti menjadi dingin. Kopi ini memang pahit, namun bagaimana kopi itu bisa nikmat bergantung pada cara memaknainya. Seperti hidup ini. Seperti hal yang baru saja terjadi kepadaku di pagi ini, di teras kedai kopi ini.

“Nikmat,” ujarku saat meletakkan kembali cangkir kopiku yang sudah kosong itu.


Muhammad Al Ghifari
Mei 2016



Thursday, May 26, 2016

Pada Sebuah Titik (Sebuah Cerpen)

Bukan pada sebuah ruang keluarga berbentuk persegi panjang dengan perapian berada tepat di depan sofa berbungkus kulit berwarna dark scarlet dan dengan karpet berbahan polypropylene di antaranya aku berada pada malam ini. Di sana tidak hangat seperti yang aku deskripsikan.
Bukan pada senja dengan langit menjingga dengan anginnya yang bertiup tidak kencang sehingga dedaunan yang dengan setia berintegrasi pada rantingnya bergerak teratur naik turun mengikuti arah yang ditiupkan lalu kemudian siapa pun secara segera menciptakan romantisasi terhadap hal tersebut yang aku rasa klise. Di sana tidak romantis seperti yang aku deskripsikan.

Bukan di antara tawa dan percakapan manusia, juga denting gelas-gelas bir yang beradu dan konstan beat musik lounge serta kelabu asap tembakau, sebagai permulaan para individu ini mengalterasi diri mereka sebagai utopist yang pada sepercik waktu melupakan nyata dunia aku berdiri. Di sana tidak ramai seperti yang aku deskripsikan.
Bukan pada hijau lembah Semeru dengan danau di tengahnya yang pada tengah hari ia menguap menjadi awan yang meneduhi apa pun yang ada di bawahnya lalu pada awal hari ia berkondensasi menjadi embun untuk kembali berada di bawah sana mengulangi proses yang sama selanjutnya. Di sana tidak indah seperti yang aku deskripsikan.

Coba hilangkan ramai suara itu, romantisasi atas suasana yang berlangsung itu, kehangatan yang menaungi itu, serta keindahan yang menghiasi itu. Kau akan temukan aku.


Muhammad Al Ghifari
Mei 2016

Tuesday, May 17, 2016

Pada Sebuah Boulevard (Sebuah Cerpen)

Aku melemparkan sekeping uang logam ke dalam instalasi seni berupa bejana air berbentuk seperti tempayan dengan ukiran bunga yang menjalar yang dengan bantuan motor listrik ia dapat menyemburkan air ke arah langit agar percikannya turun kembali memenuhi bejana tersebut secara teratur dan memiliki nilai estetika bagi siapa yang memandangnya. Itu adalah kepingan uang logam yang sebelumnya bertempat di dalam kantong kemeja flannel berwarna navy blue yang aku kenakan pada hari yang sedang mendung ini. Di tengah boulevard yang tidak terlalu banyak orang yang berjalannya itu aku berdiri, memandang langit sejenak, menghembuskan satu tarikan nafas, kemudian aku duduk di kursi kayu pada garis antara jalan dan rerumputan taman.

“Hai, dunia. Kau terlalu sibuk,” aku berujar dalam diam.
“Tidak bisakah kau beristirahat sejenak agar kita berada dalam posisi yang sejajar?”
“Apa? Bukan seperti itu kah, dunia?”
“Ah, benar.”
“Aku yang mungkin sudah payah dan terlanjur lelah,” sambil tersenyum aku masih berujar dalam diam.

Hari itu adalah hari yang tidak buruk menurutku. Mendung yang terhampar di antara angkasa sore itu tidak kupandang sebagai pertanda hal yang kelam, melainkan suatu teduh yang meskipun saling berfriksi dengan kelit definisi yang aku sampaikan mengenainya, tetapi ia harmoni. Setidaknya harmoni denganku. Mungkin orang-orang yang tampak dalam batas lensa mataku yang sudah lama minus 5,75 di depanku ini, yang sejajar posisinya dengan berjalannya dunia, yang masih tangguh dan tidak pula lelah, memiliki persepsi yang berbeda terhadap langit mendung sore hari ini yang tadi kudefinisikan.

“Dunia, kau memberiku banyak warna. Dengan masing-masing makna,” aku melanjutkan.
“Oh, tentu saja aku tahu!”
“Agar menjadi indah menurutmu, kan?”
“Ah..”
“Jika pemberianmu adalah pilihan, tentu tidak kupilih itu warna yang kegelap-gelapan.”
“Tapi kini semuanya sudah saling berdistraksi menjadi kegelap-gelapan, karena tidak bisa aku memilih.”

Aku ingin melemparkan koin kedua, tetapi kantong flannel ini sudah tidak berisi.

“Lalu apa ini maksud dari konsep menunggu?” kembali aku berujar, masih dalam diam.
“Hahaha..” aku tertawa, yang menurut Putu Wijaya tergolong ke dalam tertawa karena terlalu jengkel dan putus asa dalam klasifikasi tawa yang ia lampirkan dalam Goro-Goro.
“Menunggu seolah menyuruh kita istirahat, padahal tidak.”
“Aku memang harus menunggu, untuk apa pun itu. Bahkan untuk ini.”
“Untuk berhenti. Biar aku yang beristirahat atas kau yang menurutku terlalu sibuk.”
“Maafkan aku yang payah ini, dunia.”

Lalu riuh rendah percakapan orang-orang pada boulevard di tengah perkotaan ini terdengar seimbang dengan segala ujaranku dalam diam tadi. Lalu aku yang berhenti berujar agar dapat mendengar, mengalah pada sekitar. Seakan ingin berkolaborasi, derum berbagai jenis kendaraan yang melintas pada jalan raya ikut mengisi indera pendengaran ini. Tak lupa bunyi percikan air pada bejana yang tadi aku jelaskan di awal. Serta burung-burung, angin sore, bel sepeda, kerikil yang dilempar anak-anak ke tong sampah, plastik atau kertas yang saling bergesek, notifikasi pesan pada smartphone, dan lain-lainnya. Bunyi dunia. Dunia yang kembali meninggalkanku pada posisi semula.


Muhammad Al Ghifari
Mei 2016




Wednesday, March 30, 2016

Pada Sebuah Bar (Sebuah Cerpen)

Jika memang yang mungkin terasa sementara tak akan bisa selamanya, maka apakah yang mungkin terasa selamanya tak akan bisa menjadi sementara?

Renungku di atas sebuah kursi kayu berbentuk lingkaran yang kaki-kakinya memiliki tinggi sekira 72 cm itu di posisi kedua dari pojok paling kanan di sebuah bar, di samping kiri dinding yang sedang menggantung poster iklan produk whiskey yang harga satu botolnya dapat membiayai kuliahku selama satu perempat semester itu, di bawah temaram lampu-lampu yang masing-masingnya sengaja digantung dengan kabel ulir yang memanjang dari plafon langit-langit ke fitting-nya, dan di dalam suasana musik lounge yang membawa mood siapa saja yang mendengarnya di malam itu menjadi tenang seperti permukaan danau Plivitce pada remang cahaya bulan di tengah malam di salah satu bagian wilayah Kroasia. Lagu yang diputar sekarang adalah karya Tom Misch.

Seolah ingin memberikan kontradiksi pada suasana yang dicitrakan musik lounge bar pada malam itu, aku berpikir keras sehingga dentuman musik berkategori drum & bass yang hentakannya konstan pada 84 beat per minute tidak lagi terdengar melalui dua rongga telingaku. Di bawah temaram cahaya lampu yang kekuningan ini setiap pasang kaki para manusia pencari kesenangan itu saling bergerak teratur dengan tempo yang diarahkan Tom Misch melalui musiknya. Sebuah keteraturan yang indah menurutku. Aku ingin membaur di sana, tapi tidak, tidak bisa. Aku masih tenang ditemani pikiranku yang mulai mengajakku bercengkrama.

Aku mengalihkan pikiranku dengan cara melempar pandangan pada beberapa pengunjung di antara riuh rendah bunyi bahasa dialog mereka yang tidak dapat aku transkripsi secara satu per satu di dalam otakku. Wajah-wajah yang bahagia dan penuh tawa yang secara spontan terujar dari mulut mereka akibat ujaran kawan bicaranya yang cukup untuk membuat mereka tertawa seperti demikian kiranya, seperti tidak ada beban yang harus dipikirkan di kemudian hari yang memang seharusnya untuk dipikirkan. Tidak, tidak pada malam ini mungkin menurut mereka. Berbeda denganku.

“Hai,” ujarnya yang seketika menghampiriku untuk memecah diam yang sejak tadi bersamaku.
Oh, hai.”
“Mengapa kau di sini?” tanyanya kepadaku secara ramah.
Menenangkan diri, pikiran, apa pun yang bisa aku tenangkan.

Sudah lama kita tidak berjumpa, ya?” Aku berbalik bertanya kepadanya.
“Mengapa? Kau rindu?” Agak menyebalkan ketika ia menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan.
Ya. Tidak. Mungkin…

“…Sangat.” Aku melanjutkan jawaban.

“Tentu saja kau rindu padaku. Dahulu kita indah bersama, kan?”
Ya.
“Tidak setelah sekarang.”
“Setelah kau berteman dengan kesibukanmu bukan. Seolah aku tidak lagi ada. Atas itu semua.”
“Setelah kau dewasa. Seolah masalah merupakan temanmu juga sehingga aku kau yang kau salahkan.”
“Setelah kau tidak lagi menghargaiku yang selalu ada untukmu. Seolah aku tidak ada harganya untuk kemudian kau sia-siakan.”

Iya.
Aku menyesal untuk itu semua. Kembali lah, ada untuk aku lagi. Seperti indahnya dahulu.
Aku menjawab semua pernyataannya tadi.

“Hei, kau tau aku selalu ada.” Jawabnya sambil tersenyum.
Ya. Tidak lagi kau akan aku abaikan.”


Setelah tegukan terakhir dari gelas whiskey ketiga yang aku pesan tadi, aku melihatnya kembali berlalu. Berlalu di antara keramaian manusia di atas lantai bar berbahan marmer yang mengkilap akibat memantulkan cahaya lampu. Ia berlalu setelah tadi menyapaku dengan hangat.

Ia adalah teman lamaku, Tuan Waktu.



Muhammad Al Ghifari
Maret 2016


Tuesday, February 23, 2016

Pada Sebuah Bank (Sebuah Cerpen)

Itu adalah musim dingin di tahun 2003 ketika aku pertama melihat wajahnya di antara ramai orang-orang yang memenuhi setiap petak taman di Central Park yang sedang bersalju di sebuah kota yang tak pernah tidur. Seorang teman yang pertama kali aku kenal saat aku kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan New York dimana aku sengaja memilih tempat itu untuk meneruskan pendidikan sarjana ekonomiku. Ia adalah sosok laki-laki pada umumnya dengan gaya berpakaian a la jalanan yang secara konsep tidak pernah aku mengerti sebab gaya ini dengan bebasnya memadukan segala jenis pakaian dalam satu waktu. Cardigan dengan cargo pants, turtleneck sweater dengan hot pants, atau tuxedo dengan legging pants, apa itu? Suatu bencana aku pikir.

Itu adalah musim panas tahun 2004 saat kami sedang duduk bersama di pinggir suatu pantai di daerah Cannes yang sedang senja. Ia sedang meminum sebotol Guinness dingin di bawah payung besar yang menaungi kami ketika duduk di bawah langit yang berwarna jingga itu. Atmosfir pantai yang tenang dengan didukung angin yang berhembus tidak kencang membuat perasaan siapa saja yang sedang berada di sana menjadi damai seperti tidak ada waktu dan rutinitas yang mengikatnya agar dengan demikian seseorang tersebut harus selalu merasa sibuk hingga tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri menikmati dunia. Kemudian tanpa aku sadari sebelumnya, ia berdiri di depanku sambil memberikan sebuah cincin permata sebagai tanda bahwa ia tidak menganggap hubungan kami selesai hanya sebatas teman saja, sebagai tanda bahwa ia bukan seorang pria yang masih ingin bermain-main dengan masa lajangnya, sebagai tanda bahwa kami akan membuat sebuah janji tanpa tulisan bahwa kami akan tidak mencari lagi sosok pasangan untuk saling memberi dan berbagi suatu hal yang sangat dalam dan terlalu abstrak jika dituliskan hanya dengan sebuah kata saja – ini lebih dari itu.

“Ya.” Aku berujar sebelum ia mencium bibirku dengan lembut dan menimang diriku sampai ke suite tempat kami menginap yang menghadap ke arah hamparan laut luas sehingga jika malam hari tiba lampion-lampion yang digantung di sepanjang pantai dapat terlihat indah cahayanya yang masing-masing memiliki warna yang berbeda. Lalu kami bercinta malam itu diiringi album Charlie Parker ketika ia bermain dalam Savoy and Dial Sessions yang menurutku merupakan album terbaik yang pernah direkam.

Itu adalah pertengahan tahun 2005 di tengah pusat kota London yang sedang hujan gerimis ketika aku sedang menyeruput secangkir robusta hangat ditemani oleh sosok dirinya pada sebuah kedai kopi di pinggir perempatan jalan yang pada tiap sudut jalanannya terdapat zebra-cross yang catnya agak memudar akibat terkena radiasi sinar matahari selama bumi berotasi di siang hari agar kemudian matahari tersebut tidak selamanya memberikan radiasinya kepada seluruh penghuni bumi oleh sebab kadar radiasi matahari telah ditetapkan jumlah secara rinci oleh sang pemilik alam semesta supaya kehidupan berjalan dengan baik meskipun terkadang ada saja hal-hal yang membuat kebaikan seolah tidak hadir di antara kami, seperti saat masalah yang timbul di antara kehidupan misalnya. Sama seperti sore yang sedang gerimis itu. Aku sebenarnya tidak ingin menganggapnya sebagai masalah, tetapi tetap saja, ada yang salah sepertinya. Ada yang salah pada dirinya, sepertinya. Setelah meneguk arabica yang sebelumnya telah ia pesan, ia membuka kalimat.

“Maaf.”
“Maaf sebab?”
“Ya, uh.. Apa ya..”
“Bicara saja, seperti kau bicara seperti biasanya kepadaku.”
“Iya. Akan aku lakukan.”
“Sekarang.”
“Akan. Tunggu lah.”
“…”
“Baik.”
“Ya?”
“Maaf.”
“…”
“Maaf karena aku tidak bisa bersama kamu lagi. Kamu pantas untuk mendapatkan orang yang lebih baik.”
“Maksudmu?”
“Iya. Itu maksudku.”

Aku melepaskan cangkir yang sedari tadi aku genggam sehingga cangkir itu kini berada di atas meja berbahan kayu bubinga yang tiap serat kayunya memiliki jarak yang lebar-lebar, cukup lebar sehingga menimbulkan motif belang-belang pada permukaan meja kayu itu. Lalu aku menatap dalam ke matanya sambil menahan seribu pertanyaan yang ingin aku keluarkan dalam satu waktu seperti “Kenapa?”, “Apa sebabnya?”, “Kamu sedang bercanda, kan?”, “Siapa yang menyebabkan kamu mengambil keputusan ini?”, “Siapa orang baru itu?”, “Bagaimana dengan kita?”, dan sembilan ratus sembilan puluh empat pertanyaan lain semacam itu yang seluruhnya siap keluar dari mulutku secara bersamaan. Nyatanya tidak bisa. Hanya diam yang bisa aku lakukan. Lalu ia tersenyum sebelum berkata dan kemudian berlalu.

“Semuanya akan baik-baik saja. Jika tidak baik menurutmu, maka ini bukan akhir atas segalanya.”

Aku masih diam di situ. Seolah dunia menyempit saat ia kemudian berjalan keluar dari kedai kopi itu. Ia berjalan tanpa kemudian membalikkan pandangannya kepadaku sebelum akhirnya benar-benar hilang dari pandangan mataku. Seolah waktu berhenti saat itu. Dan itu air mataku yang jatuh membasahi mata dan eyeliner-ku untuk kemudian itu turun membasahi pipi kiriku terlebih dahulu sebagai pertanda bahwa sedih yang menyebabkan itu jatuh dari mataku. Hal yang ia tinggalkan kepadaku saat itu adalah kenangan dan sebuah cincin permata yang sebelumnya ia letakan di setengah bagian meja dimana tempat ia duduk sebelumnya.

Itu adalah 2016 pada Februari yang sedang cerah di meja kerjaku pada sebuah ruangan yang pada pintunya terdapat tulisan namaku beserta jabatanku di kantor ini agar kemudian orang-orang yang melintas di depannya menjadi tahu bahwa ini adalah ruanganku untuk bekerja sebagai manajer bank. Itu semua terlintas ketika aku sedang duduk dan memandangi cincin permata yang dulu ia berikan saat meninggalkanku di London sendiri sebelas tahun yang lalu tanpa ada kabar tentangnya hingga kini. Seketika aku menyandarkan tubuhku untuk melepaskan diriku dari lamunan panjang yang baru saja terjadi, bunyi letusan senjata api beserta bunyi pecahan kaca menyeruak dari arah pintu utama bank. Pintu ruang kerjaku didobrak secara paksa oleh dua orang yang mengenakan topeng hitam agar dengan demikian hanya kedua bola mata dan garis bibirnya saja yang dapat terlihat.

Mereka membawa paksa aku untuk keluar dari ruang kerjaku dan kemudian dikumpulkan bersama para pegawai dan nasabah bank yang hadir pada hari itu. Kami semua berada pada posisi tengkurap dengan posisi tangan yang terikat di punggung. Aku melemparkan pandanganku ke sekeliling ruangan ini sehingga aku mendapati bahwa sekawanan perampok itu berjumlah lima orang.

“Semua harap tenang. Tidak akan ada yang terluka jika kerjasama yang baik terjalin di antara kita.”
Ujar salah satu dari mereka sambil menggiring paksa rekan kerjaku untuk membukakan pintu brankas agar dengan demikian tiga kawanan perampok selain dirinya dapat masuk ke dalam untuk mengambil sejumlah uang yang akan memenuhi beberapa tas jinjing yang mereka bawa. Satu orang lainnya tampak menjaga dan mengawasi pintu utama bank.

Setelah mereka selesai melakukan apa yang ingin mereka lakukan tersebut mereka meninggalkan bank lalu berjalan ke arah mobil van berwarna navy blue. Dengan pintu bank yang terbuka lebar akibat sebelumnya telah pecah oleh tembakan senjata api yang dibawa mereka sehingga angin kencang dari luar dapat memasuki ruangan lobi bank ini dengan leluasa, aku mendengar salah satu dari kawanan perampok itu berkata kepada kawannya saat mereka memasukkan tas-tas berisi sejumlah uang yang baru mereka dapatkan itu.

“Sudah kubilang padamu, kan?” Ia berhenti lalu melanjutkan kalimatnya.
“Semuanya akan baik-baik saja. Jika tidak baik menurutmu, maka ini bukan akhir atas segalanya.”


Mobil itu lalu beranjak pergi.




Muhammad Al Ghifari
Februari 2016

Sunday, February 7, 2016

Monolog Pesan (Sebuah Cerpen)

Beep!

Pesan singkat dariku rupanya telah terkirim agar kemudian sekian jumlah inch layar smartphone miliknya menyalakan cahaya beserta memunculkan kotak dialog pemberitahuan bahwa terdapat pesan baru yang diterima sehingga menyebabkan bunyi ‘beep!’ tersebut bersuara – bunyi yang sedikit mengganggu orang-orang di sekitarnya sebab mereka selalu berlagak sebagai pemuja keheningan yang abadi. Seolah-olah bunyi 'beep!' sepercik di antara keramaian atau kebisingan suasana kota mengganggu kehidupan mereka sehingga mereka bergegas menoleh jika ada seseorang yang menimbulkan bunyi tersebut dari smartphone miliknya.

Beep!

Pada sepuluh menit berikutnya aku kembali menjadi penyebab smartphone miliknya berbunyi. Sepuluh menit memang menjadi toleransiku untuk menunggu seseorang membalas pesan yang menurutku, setidaknya menurutku, penting untuk segera dibalas.

Beep!

Aku merasa mulai tidak enak oleh sebab pesanku sendiri yang terasa menyerang karena dikirim dalam selang waktu yang relatif singkat. Kamu sedang sibuk, kah? Akan aku coba kembali pada 30 menit yang akan datang.

Beep!

Chick Corea yang sedang sibuk memainkan improvisasi solo keytar pada bar ke-64 lagu “Got a Match?” dalam laman YouTube tidak lagi aku simak dan dengarkan. Tidak terdapat sinkronisasi kinerja antara mata, telinga, dan otak pada tubuhku yang konsentrasinya masing-masing terbagi atas layar smartphone, lagu “Got a Match?”, dan bayangan-bayangan bahwa tidak dibalasnya pesanku sebab kamu yang sedang sibuk berbalas pesan dengan orang lain. Hahaha.. Tidak mungkin, kan? Semoga tidak.

Beep! Beep!

Kali ini smartphone milikku yang menimbulkan bunyi. Bunyi ‘beep!’ sebanyak dua kali setelah 58 menit lamanya tidak bersuara, setelah dua akun media sosial aku telisik sampai lini masa yang paling lampau untuk membuktikan dan mendapatkan bukti bahwa kamu sedang aktif di sana, setelah Chick Corea menyelesaikan permainan musik yang dinamis bersama band hebatnya: Chick Corea Elektric Band, setelah segelas kopi Toraja yang aku seduh tadi dingin dan tersisa 1/3 gelas, setelah imajinasiku bermain dan mempermainkan perasaan pada diriku bahwa kamu sedang berbuat yang tidak aku inginkan, setelah semua itu, menandakan adanya pesan masuk. “Dari: 3636 – Aktifkan segera paket internet murah blablablablabla...”

Brengsek, 3636.

Ah, mungkin rasa penasarannya untuk segera membaca dan membalas pesanku sudah tidak lagi sama seperti dulu.
Ah, mungkin pesan dariku sudah tidak lagi membuatnya girang sebab waktu dapat terbunuh saat kita saling bertukar pesan singkat.
Ah, mungkin sudah ada cara lain untuknya membunuh waktu selain bertukar pesan singkat bersamaku.
Ah, mungkin ada teman bertukar pesan singkat baru yang menurutnya lebih menarik ketimbang aku.
Ah, mungkin…

Aku menghela nafas panjang.

Aku beranjak dari tempat duduk pada sudut kiri kamarku yang dihiasi poster besar Albert Einstein yang sedang menjulurkan lidah. Einstein pun sampai meledekku. Aku matikan laptop yang sedari tadi memainkan video musik pada laman YouTube yang sengaja aku buka. Aku mengenakan sandal jepit putih milikku untuk melindungi telapak kakiku dari panasnya aspal pada jam yang sedang menunjukkan pukul 14.02, atau dengan mengenakan sandal jepit yang demikian para pegawai warung nasi yang akan aku kunjungi dan kemudian aku perintahkan mereka untuk menghidangkanku sepiring makan siang tidak akan memandangku aneh sebab aku tidak mengenakan alas kaki. Biar kutinggal ponselku, sebentar saja kok. Lalu aku menutup dan mengunci pintu kamarku.


Beep! Beep!

Beep! Beep!

Beep! Beep!




Muhammad Al Ghifari
Februari 2016

Friday, December 4, 2015

Monolog Dialog (Sebuah Cerpen)


November hampir habis ketika hujan mengguyur kota itu. Itu adalah kota Bandung, yang pada salah satu cafénya ada mereka sedang berbicara seusai makan siang.

“Tidak, pergi ke sana kan jauh sekali.”
“Ah, masih lebih jauh Ekuador kan? Atau apa itu, oh.. Madagaskar.”
“Bisa saja kamu,” dia tertawa, setengah saja.

Saya selalu suka berbicara bersama dia. Tentang hal apa saja, akan tidak membosankan jika bersama dia.

“Lalu, siapa itu? Warman? Tarman? Parman? Temanmu yang dokter hewan itu.”
“Bokir, maksudmu? Iya, sekarang dia mengambil pendidikan dokter. Dokter orang kali ini.”
“Oh,” dia kembali mengaduk Dilmah beraroma earl gray untuk kemudian meminumnya perlahan sementara saya menenggak gelas bir kedua yang baru saja diantar pelayan yang tutur katanya sopan itu.

Aku bukan pengagum musik jazz konvensional. Coltrane? Parker? Nada macam apa yang mereka mainkan dalam birama 4/4, 9/8, lalu 5/8 itu? Dengan bunyi burung serak pada saxophone-nya itu mereka mungkin dapat menakut-nakuti tikus di rumahku yang selalu mengganggu ketika aku memasak apple pie.
Kali ini komposisi A Night in Tunisia yang menjadi latar pembicaraan mereka.

“Dizzy Gillespie, peniup trumpet favorit saya. Gurunya si Sandoval.” Saya sedikit mendeskripsikan.
“Ya. Tidak. Tidak tahu..?”
“Ah, kamu coba lah sesekali dengar jazz.”

Dia, ketika tersenyum, memang menarik. Saya tertarik. Pembicaraan yang baik, senyum yang menarik.

“Lalu aku bilang, aku ingin punya toko kue. Aku ingin berbisnis.”
“Hebat. Saya ingin jadi guru.”
“Kenapa?”
“Kenapa jadi guru maksudmu? Karena saya kagum. Bukan pada pendidikan, tapi pada ibu-ibu guru yang cantik. Setidaknya demikian ujar Gitanyali.”
“Hahaha, kamu aneh.”
“Wanita semenarik kamu ingin punya toko kue. Kamu bisa jadi aktris atau supermodel. Kamu yang aneh.”
“Mungkin. Tapi tetap saja kamu yang aneh. Musisi jazz mata keranjang yang mau jadi guru? Kamu ancaman kepada dunia pendidikan.”

Dia humoris. Aku suka pria humoris. Tapi dia bukan tipeku, setidaknya belum menjadi tipeku untuk saat ini.

“Apa maksud perkataanmu? Aku terlalu kaku? Kamu rupanya suka menilai orang.”
“Tidak, saya tidak suka menilai orang. Tapi kamu memang kaku secara kepribadian.”
“Semaumu saja lah, orang aneh.”
“Lihat siapa yang suka menilai orang sekarang.”

Mereka sama-sama diam kali ini. Sekira 27 menit tidak ada pembicaraan di antara mereka.

“Saya minta maaf,” saya agak menunduk ketika berkata demikian.
“Ya, begitu pun aku.”
“Ah, tidak. Saya yang salah.”
“Tapi aku yang tadi lancang.”
“Sudah lah. Tak apa bagi saya.”
“Aku pun sudah lupa mengapa kita sampai berselisih tadi.”
“Hehe.”

Mendungnya awan telah dibawa angin pergi berlabuh ke sisi bumi yang lain. Sisi bumi yang kering dan tandus sehingga penduduknya berada dalam masa kesulitan karena sawah-sawah yang belum kebagian rizki dari sang halikuljabbar. Sehingga dengan demikian mereka berdoa dengan tulus dan penuh pengharapan agar setidaknya satu jam saja – atau dua jam, kalau boleh – awan mendung datang mengunjungi mereka dan menghadiahi pancuran hujan. Doa yang tulus tanpa terikat waktu karena waktu memiliki ‘ruangnya’ sendiri yang tidak dipengaruhi – sebab ia mempengaruhi. Waktu mempengaruhi seseorang atau sesuatu dengan caranya yang biasa namun luar biasa: berlalu. Dengan berlalunya waktu, mereka menjadi merasa berkeharusan untuk meninggalkan café itu, menghentikan pembicaraan yang baik.

“Aku harus pulang.”
“Baik, saya pun demikian jika kamu merasa demikian.”
“Pembicaraan yang baik.”
“Ya, kamu menarik bagi saya.”
“Ya.”
“Ya.”
“…..”
“…..”
“…..”
“Katamu kamu harus pulang, bukan?”
“Iya. Janji bahwa kita akan berbicara bersama lagi nanti, ya?”
“Iya, saya janji.”
“….”
“Kok, diam?”
“Tidak.”
“Yuk, saya antar kamu pulang.”

Dia tersenyum dengan senyuman yang seperti tadi ketika saya tertarik dengannya.

“Yuk!”



Muhammad Al Ghifari
Desember 2015






Saturday, July 11, 2015

Pada Sebuah Apartemen (Sebuah Cerpen)


Seratus persen kesempurnaan, atau mati saja lah.

Aku terus berkata demikian.

Biar aku tepuk kedua tanganku ini dahulu agar aku tahu apakah ini mimpi atau nyata.

Aku bergetar, berkeringat, karena berada dalam tekanan.

Jika tepukan tanganku tak saling mengena satu sama lain, maka aku tahu ini tidak nyata.


Lalu aku terbangun. Di pojok sebuah kamar apartemen ini, aku terduduk. Rupanya aku tertidur ketika aku sedang mengerjakan lukisan pesanan tuan Brata. Sebuah lukisan potret penari Bali dengan latar bewarna merah carmine yang aku padukan dengan warna hitam untuk memberikan kesan kontras antara ekspresi sang penari yang penuh senyuman dangan nuansa suram. Dengan demikian lah aku dapat menyampaikan makna bahwa dibalik cerah ekspresi yang ditampilkan oleh sang penari melalui senyuman terdapat kegelisahan dan kekalutan yang kelam tersembunyi. Sang penari Bali ini belum sepenuhnya selesai aku lukis. Disamping senyuman yang timbul penuh makna bagi siapa yang melihatnya yang semalam telah aku selesaikan, aku masih bingung untuk menentukan bagian matanya. Aku tak tahu harus seperti apakah aku lukiskan sorotan mata penari ini. Apakah sorotan mata tajam khas seorang penghibur yang penuh dengan hasrat yang sangat cocok jika dipadukan dengan sorot sinar matahari yang menelusup masuk dari jendela pada pagi hari ini? Sorot mata yang layu manja seperti seseorang yang sedang berada dalam kenikmatan yang amat sangat kah? Atau haruskah kulukis penari ini dengan membuatnya memejamkan mata saja agar kesan seorang penari yang menghayati tariannya ini semakin kuat? Pak Brata tentu sudah mengingatkanku berkali-kali mengenai tenggat waktu penyelesaian lukisan ini yang sudah lewat agak jauh. Tapi aku tidak mengacuhkannya. Persetan, aku ini seniman. Apa yang diketahui oleh kolektor selain uang dan uang?
Kukenakan kacamata berlensa minus 5,75 milikku.

“Ah, sial! Sudah pukul 8.37!” kataku sembil menggerutu setelah mataku secara sengaja aku alihkan pandangannya ke arah jam Seiko yang aku gantung di dinding bagian atas sejak tiga tahun yang lalu yaitu pada tahun kedua aku menempati apartemen ini. Aku kemudian bergegas untuk memasukkan alat lukis yang berserakan di atas meja kecil berbentuk lingkaran yang terbuat dari kayu sonokeling di sebelah kanvas berlukiskan penari Bali yang sudah sekira 87% jadi itu ke dalam ranselku.
“Nanti malam pasti aku selesaikan,” kataku sambil menatap lukisanku itu sebelum aku menutup pintu apartemenku.

Aku berangkat ke taman dekat apartemenku untuk memenuhi janjiku kepada seorang klien yang seharusnya telah aku lakukan 37 menit yang lalu. Dia bermaksud untuk membeli sebuah lukisan yang aku lukis bulan lalu seharga dua ratus lima puluh juta rupiah. Terlalu murah pikirku. Lukisanku seharusnya bisa bernilai lebih dari itu, paling murah lima ratus juta rupiah. Tetapi aku setuju dengan penawaran ini mengingat sejak dua minggu yang lalu aku belum pernah menerima penawaran apa pun. Lagipula aku dapat dengan mudah mendapatkan ratusan juta rupiah lainnya kapan pun aku mau dengan lukisan-lukisanku.

Aku tiba di taman itu. Kemudian aku duduk di sebuah bangku yang sebelumnya telah kami tentukan sebagai tempat pertemuan dalam percakapan pesan singkat.
“Maaf, saya tidak sengaja datang terlambat.”
“Tidak masalah,”
Dia menjawab sambil kemudian menyerahkan sebuah amplop coklat tebal berukuran sedang kepadaku. Tentu saja amplop tersebut berisi uang. Tentu saja aku percaya bahwa jumlah uang di dalam amplop ini sesuai dengan kesepakatan kami. Tentu, memang ini caraku bertransaksi dalam menjual lukisan-lukisanku.
“Saya akan kirim lukisannya ke rumah anda pukul dua siang ini.”
Lalu ia menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi. Aku pun pergi untuk menuju galeri lukisanku agar dapat mengatur proses pengiriman dan segala administrasinya.

Malam harinya, aku sedang menuangkan anggur ke dalam gelas ketika bel pintu apartemenku berbunyi.
“Oh, Devona rupanya. Masuk lah,”
Devona malam ini tampak anggun dengan gaun hitam dan sepatu hak tinggi merahnya. Dengan tatapan nakal dan senyumnya, ia masuk ke dalam apartemenku. Tanpa aku persilahkan, ia duduk di atas sofa kulit bewarna putih gading di ruang tamu apartemenku. Lalu ia meminum segelas anggur yang baru saja aku tuangkan sebelumnya tanpa aku persilahkan, lagi.
“Bagaimana transaksimu?”
“Lumayan,” aku menjawabnya sambil menyalakan geretan untuk membakar tembakau dalam Marlboro yang aku kulum.
“Baiklah, tuan jutawan.” Katanya sambil mengangkat gelas anggur itu hingga sejajar dengan wajah cendayamnya yang berhias tatapan mata yang teduh dan bibir yang bergincu mulberry itu.
“Lalu bagaimana dengan lukisan pesanan Pak Brata itu? Kamu tentu bermaksud untuk menyelesaikannya, bukan?” Ia bertanya sambil menunjuk ke arah lukisan penari Bali itu.
“Oh, itu. Entah lah, lukisan ini berbeda dari lukisanku yang lainnya. Aku sangat sulit untuk menentukan penyelesaiannya.”
“Mengapa demikian? Ini sudah lewat satu bulan dari tenggat waktumu. Kamu harus ingat itu,”
“Ikatan emosiku terhadap lukisan ini sangat kuat. Lukisan ini seperti aku. Maka dari itu aku ingin seratus persen kesempurnaan ada padanya juga.” Aku menerangkan.
“Bagaimana dengan Pak Brata yang sudah menunggu lukisan ini?”
“Persetan si Brata. Lebih baik aku mati saja daripada harus mengorbankan kesempurnaan lukisanku.”
“Dasar kamu, seniman. Aku benar-benar tidak mengerti cara pikirmu,” ia tertawa kecil.
“Sudahlah, kita rayakan saja malam ini.” Aku berkata sambil menuangkan anggur ke gelas.
Setelah menghabiskan tiga botol anggur dan beberapa batang rokok, kami bersenggama. Di sofa, di atas meja makan, di depan lukisan penari Bali yang belum aku selesaikan, dan di tempat tidur kamarku. Kami bersenggama hingga klimaks dan tertidur pulas.

Pagi hari, aku terbangun. Hanya aku sendiri yang ada di atas tempat tidurku. Devona sudah pergi, mungkin berangkat ke kantornya atau pulang ke apartemennya. Setelah bangun, aku langsung menuju ke kanvas lukisanku untuk menyelesaikan rupa sang penari Bali yang hampir jadi ini. Aku memerhatikan dengan seksama lukisanku ini. Sebuah mahakarya yang benar-benar mencerminkan makna dua perasaan yang saling berbanding terbalik dalam diri seorang manusia, hanya saja tanpa sepasang bola mata pada wajahnya.
“Bangsat, seharusnya kamu sudah kuselesaikan malam kemarin jika Devona tidak datang.”
Aku mulai mencampurkan cat dan minyak dan kemudian menuangkan beberapa warna ke dalam palet.
“Sorot mata seperti apakah yang harus aku lukiskan?”
Di saat yang bersamaan ketika aku bergumam, telepon genggamku mengeluarkan suara yang memberitahukan adanya panggilan masuk.
Tulisan “BRATA” terpampang dalam layar kaca telepon genggamku.
“Selamat pagi, pak.” Aku menyapanya supaya menunjukkan bahwa aku adalah seseorang yang mengerti etika dan tatakrama dalam menerima telepon.
“Bagaimana lukisan pesanan saya?” Tanpa menjawab sapaanku sebelumnya, Pak Brata langsung mencercaku dengan pertanyaan yang sama dengan panggilan-panggilan telepon pada hari-hari dan minggu-minggu sebelumnya.
“Oke, pak. Saya janji besok lukisan ini selesai. Bapak harus tahu betapa luar biasa sulitnya lukisan ini. Saya sudah ber-…”
“Tidak ada lagi besok! Saya batalkan pesanan ini. Biar saya suruh saja pelukis lain yang lebih berbakat dan lebih murah daripada kamu. Seniman payah!” Ia berkata demikian dan langsung menutup panggilan telepon ini.

Aku diam untuk mencerna apa yang baru saja terjadi dalam percakapan telepon tadi.
Seniman payah katanya? Brata brengsek! Beraninya dia berkata demikian.
Aku kemudian membuka botol Black Label di atas meja ruang tamuku. Aku meminumnya tanpa ragu-ragu hingga menyisakannya setengah botol. Aku berpikir sambil masih menggenggam botol di tangan kananku.
Lukisan ini memang luar biasa. Seniman sepertiku sampai dibuatnya kepayahan.
“Persetan,” aku membuang botol ke lantai. Aku lalu beranjak ke kanvas lukisan penari Bali itu. Aku mulai untuk melukisnya kembali.

Satu jam waktu berlalu.
Satu jam lainnya waktu berlalu.
Satu jam dari satu jam waktu lainnya juga telah berlalu.
Aku masih terpaku di depan kanvas lukisan dengan memegang palet yang catnya sudah mengering. Tidak ada kemajuan dari sejak pertama aku mulai melanjutkan lukisan yang belum kuselesaikan pagi tadi ini. Tanganku bergetar, aku tidak mampu menahan emosi yang didukung dengan derasnya adrenalin yang bergejolak di tubuhku. Aku mematahkan kuas dan membanting palet yang aku pegang. Seratus persen kesempurnaan hanya tinggal kata-kata. Benar, mungkin lebih baik aku mati saja jika tidak bisa kucapai seratus persen kesempurnaan itu.
“Kau saja yang mati! Aku seniman seratus persen sempurna!” Teriakku sambil menatap lukisanku itu.
Aku jatuh ke lantai dari tempat duduk melukisku. Lalu aku tanpa sadar menangis.
Rupanya aku menangis lama akibat kekalahan yang telah berpadu dengan jumlah alkohol yang tidak sedikit di dalam tubuhku ini, hingga aku dibuatnya tertidur di atas lantai apartemenku.

Di dalam tidurku, aku seperti terbangun oleh sentuhan lembut di punggungku. Dengan berbagai macam pengalaman kehidupanku, aku sangat meyakini bahwa sentuhan tersebut adalah sentuhan wanita. Aku membetulkan posisi tubuhku dengan mengulat hingga membuatnya terlentang sambil perlahan membuka mata. Seorang wanita yang sosoknya sangat kukenal rupanya. Aku mencari-cari kacamataku dengan meraba beberapa meter persegi bagian lantai apartemen di sekitar tempat aku tertidur tadi.
“Kacamataku? Dimana? Kamu…Devona?”
Pandangan mataku sangat buruk tanpa bantuan kacamata. Aku memandang ke arah jendela. Samar-samar aku menyadari bahwa hari sudah malam seketika tangan miliknya menarik tangan milikku untuk membantuku membangunkan tubuhku. Pandanganku masih kabur dan kepalaku pusing, efek alkohol rupanya masih kuat mempengaruhiku. Ia kini berdiri membelakangiku.
“Mengapa tidak kau selesaikan?” Ia bertanya padaku.
Dengan susahnya aku mencari-cari kacamataku di lantai.
“Dimana seratus persen kesempurnaanmu itu?” Belum sempat aku hiraukan pertanyaanya yang pertama, ia sudah bertanya kembali.
“Ah, ini dia!” Kataku sambil mengambil kacamataku yang terletak di empat setengah meter dari lantai tempat aku tertidur sebelumnya. Mungkin terjatuh dan terdorong ketika aku tak sengaja tertidur.

Kini aku bisa melihat dengan jelas ruang apartemenku dan jam Seiko yang jarum pendeknya tepat menunjuk di antara angka 12 dan 1. Lalu aku berbalik badan untuk melihat ke arah Devona. Aku dari belakang melihat Devona yang mengenakan pakaian tradisional yang entah mengapa sangat kukenal.
“Sejak jam berapa kamu ada di apartemenku, Devona? Dan…mengapa kamu mengenakan pakaian seperti itu?”
Aku memerhatikan sosoknya dari belakang dan dengan segera pula aku menyadari sesuatu. Devona yang ada di depanku bukan lah Devona. Aku bergidik, kemudian dengan perlahan aku mengalihkan pandanganku ke arah lukisan penari Bali di sebelah kiri badanku. Kanvas lukisan potret penari Bali yang kulukis itu kini hanya menampakkan latar berwarna merah carmine yang berpadu dengan hitam saja tanpa adanya penari Bali.
Kakiku seketika membeku lemas, aku tidak bisa bergerak.


Ini pasti mimpi, bukan kenyataan. Jelas aku masih tertidur sekarang.

Biar aku tepuk kedua tanganku ini dahulu agar aku tahu apakah ini mimpi atau nyata.

“SERATUS PERSEN KESEMPURNAAN?! KAU SAJA YANG MATI!” Wanita itu membalikkan wajahnya ke arahku sambil berteriak. Sebuah sosok wanita penari Bali dengan wajah tanpa bola mata yang sekarang berlari sambil bersiap menghunuskan keris ke tubuhku.

Aku sangat ketakutan hingga tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhku.

Jika tepukan tanganku tak saling mengena satu sama lain, maka aku tahu ini tidak nyata.


PROK!


Muhammad Al Ghifari
Juli 2015


Sunday, May 24, 2015

Pada Sebuah Balkon (Sebuah Cerpen)

Di bawah seperempat sinar matahari pada sebuah pagi itu aku bersandar pada tiang mahogany yang agak lapuk untuk menopang balkon pada rooftop apartemen tempat aku tinggal. Shubuh baru usai. Menenggak secangkir kopi dan menghisap sebatang rokok bukan caraku menghayati pagi. Cukup memandang dan merasakan atmosfirnya saja, sudah cukup bagiku untuk menghayatinya. Begitu kiranya ritual pagi hariku. Setelah aku mengambil pandangan kepada sebagian sempit suasana kota tempat aku tinggal dari atas balkon ini, aku masuk kembali ke dalam ruangan apartemenku. Kuhidupkan lampu ruangan ini agar suasananya menjadi hangat. Lampu ruangan ini bercahaya kuning sehingga menimbulkan efek remang pada ruangan berkarpet beludru ini, yang serasi dengan langit di luar yang masih biru gelap. Entah lah, setidaknya demikian menurutku. Aku tersenyum, menghayati pagi ini.
                Aku menuju ke upright piano berlabel Steinway & Sons yang dahulu ketika pertama kali aku pindah ke apartemen ini secara sengaja aku posisikan di pojok ruangan dan menghadap ke arah pintu dan jendela kaca balkon. Aku suka sekali pada sebuah nomor jazz standard dengan nada dasar EbMaj7 yang ditulis Errol Garner: Misty. Ini juga salah satu ritualku pada pagi hari. Memainkan jazz. Aku buka papan penutup tuts piano ini lalu aku mainkan.
“…don't you notice how hopelessly I'm lost.
That's why I'm following you…”
                Kemudian pada bait terakhirnya.
On my own
would I wander through this wonderland alone
never knowing my right foot from my left
my hat from my glove
I'm too misty and too much in love…”
                Lalu dering telepon genggam berbunyi ketika belum sempat aku selesaikan part solo piano dalam lagu ini. Aku berhenti. Dering alarm reminder rupanya. Aku tidak bergegas untuk mengambil telepon genggam itu untuk kemudian aku lihat pesannya.
Tidak begitu penting.
Tidak penting.
Tidak begitu.
Tidak.
Aku bejalan untuk kembali duduk di depan piano.
Dia terbangun dari kamarnya. Membuka pintu dengan perlahan sambil kulihat kepalanya mengintip dari balik pintu. Kemudian dengan mukanya yang masih tampak lelah dia berjalan keluar dari kamarnya. Wajahnya manis berbentuk agak menyerupai lingkaran dengan dihiasi rambut panjang yang bergelombang di bagian ujungnya. Masih seperti waktu dahulu. Aku tersenyum melihatnya.
Dia melihat ke lampu ruangan yang telah aku nyalakan sebelumnya, lalu dia mematikannya. Kemudian dia berjalan ke pojok ruangan, ke piano yang aku mainkan sebelumnya, lalu dia tutup papan penutup tuts piano yang terbuka itu. Dia kemudian mengambil kacamatanya, juga telepon genggamnya, dan kemudian dia membaca pesan reminder di telepon genggamnya.
Tahun kelima. You wouldn't know how difficult to pass the time since that day.
Lalu dia keluar menuju balkon melalui pintu kaca yang telah terbuka. Dia bersandar pada tiang mahogany yang sudah lapuk itu kemudian dia pasang earphone untuk memainkan sebuah lagu pada telepon genggamnya. Misty, pada layar teleponnya terpampang judul lagu itu.
Dia kemudian memandang ke dalam ruangan apartemen melalui pintu kaca pemisah ruangan dengan balkon itu, dia memandang ke piano. Lalu dia melemparkan pandangannya ke langit pagi yang kini berwarna biru cerah itu.
Dia tersenyum. Namun ada airmata jatuh dari dua buah matanya.
Aku tersenyum melihatnya dari dalam ruangan, di tempat aku duduk di depan piano itu.
Tapi dia tidak melihatku tersenyum.
Tidak.
Tidak bisa.


Muhammad Al Ghifari
Mei 2015

Saturday, April 25, 2015

Pada Sebuah Bangku (Sebuah Cerpen)


Aku pada paruh akhir tahun ketiga pendidikan perguruan tinggi ini – di sebuah kota busuk yang kini aku dibuatnya menikmati karma akibat dulu aku sangat membencinya hingga aku tidak ingin tinggal di sini – entah belakangan ini atau mungkin sudah lama namun aku baru menyadarinya bahwa ruang kelas dan silabus perkuliahan dosen tidak hanya terbatas oleh itu saja. Ya, ada yang menarik. Ada sesuatu yang magis sehingga aku terbuai pada hal selain referensi bahan perkuliahan, sebut saja Mona Baker dengan In Other Words-nya atau Jeremy Munday dengan Introducing Translation Studies-nya. Hal tersebut tentu saja melampaui indera penglihatanku yang hanya terbatas untuk mentranskripsikan data visual saja. Juga indera pendengaran ini sehingga ramai dibuatnya menjadi hening. Ini lebih dari itu. Ini membuat aku merasa sekaligus berpikir tanpa melibatkan logika. Karena dia, aku tidak menggunakan logika yang selalu menjadi ketajaman berpikirku. Belum, aku juga belum tahu apa yang mencandui aku saat ini. Ah, perasaan ini.

“Aku harus kuliah pagi ini,” aku bergumam sembari menata rambut ini hingga terlihat klimis.
“Dia, ya dia. Mata kuliah ini salah satu kesempatanku untuk bertemu dia,” ditambah kemeja merah gelap berlengan panjang yang aku kancingkan hingga leher untuk menguatkan kesan parlente style.
“Aku akan duduk di satu pertiga deretan bangku paling belakang agar aku bisa melihatnya,” sambil aku membereskan segala perlengkapan yang aku akan bawa untuk kuliah, dan bersosial tentu saja. Kemudian aku mengikatkan tali Dexter Shoes berbahan kulit ini untuk selanjutnya aku menuruni anak tangga tempat kost ini supaya aku dapat berangkat ke kampus di jam yang sedang 9.13 ini.

“Bangku belakang masih kosong,” ujarku yang memperhatikan deretan bangku belakang yang sudah terisi setengah penuh itu untuk kemudian aku memasuki ruang kelas dan menduduki bangku yang sebelumnya sudah kurencanakan untuk kutempati itu.
Beberapa kawanku duduk pada deretan bangku yang sama denganku.
Beberapa kawannya duduk pada deretan yang terpisah dua deret ke depan dari deretanku.
Tetapi tidak ada dia pada deretan tersebut.

“Mungkin dia akan datang sebentar lagi,” aku bergumam.
9.24, dosen memasuki ruang kelas sehingga menyebabkan seluruh kelas menjadi hening dan terambil alih perhatiannya pada beliau.
Dia belum ada.
“Mungkin dia akan terlambat,” aku bergumam dengan sedikit berharap.
9.42, kelas sekarang sedang sibuk saling mendiskusikan materi perkuliahan yang bahkan bukan menjadi prioritasku di detik ini.
“Semoga dia datang”, aku berharap dengan tulus.

9.50.
10.13.
10.21.
10.39.
10.46.
10.53.
10.59.
11.00.
“Ah, perasaan ini..”


Muhammad Al Ghifari
April 2015


Wednesday, April 8, 2015

Pada Sebuah Kamar (Sebuah Cerpen)


Akhirnya sepi. Sepi, tidak begitu banyak yang berubah dari suasana ruang apartemen itu. Sebab waktu yang hanya berubah dan mengubah jalan kisah untuk siapa yang terikat. Alfa terduduk dengan tidak bermaksud untuk merenungkan jalan kisahnya, hanya saja memang waktu yang membuatnya terpaksa tidak berdaya di ruang apartemen itu, sepi.

            Senyum yang tidak seorang pun dapat menebak maknanya timbul ragu-ragu pada wajah Theta.
            “Aku yang harus pergi. Aku bersamanya,” Theta membuka suara, pada akhirnya.
            Sepi. Ada diam yang sesungguhnya menghujam rasa, tajam.
            “Jadi? Apakah memang harus begini?” Alfa melempar pertanyaan.
            Setelah air mata yang secara tidak sengaja, dengan tidak tertahan, mengalir dari sepasang mata berwarna coklat milik Alfa itu.
            “Maafkan aku, Alfa.” Theta berkata datar, seolah menyesal tetapi tidak. Tidak, tidak ada yang tahu.
            “Apa maksud dari semua ini?!” Alfa menyentak memecah sepi.

            Kemudian sepi. Apartemen itu adalah kediaman Alfa dan Theta, dengan sentuhan arsitektur scandinavian yang bisa terlihat pada dinding batu-bata berlapis cat putih polos dan perapian berbahan kayu ebony. Memang waktu yang telah mengantarkan mereka pada ulang tahun kelima pernikahan mereka. Seketika jatuh seikat bunga lavender yang pada sekelilingnya dibalut oleh rangkaian melati dari genggaman tangan Alfa yang baru saja tiba di ruangan apartemen itu. Theta di tengah ruangan apartemen itu berdiri, berciuman mesra sambil merangkul leher Gamma dengan begitu lembutnya. Sepi.
Awalnya sepi.



Muhammad Al Ghifari
April 2015

            

Tuesday, April 7, 2015

Pada Sebuah Gerbong (Sebuah Cerpen)


            Senja itu aku berpulang kembali ke kota di mana segala rutinitas aku jalani, kota Bandung, dari Jakarta yang sedang 30 derajat celcius lebih sehingga membuat aku melepaskan jas hitam yang aku kenakan untuk acara sebuah lamaran pernikahan salah seorang saudara yang telah aku hadiri. Dengan menggunakan kereta pukul empat sore, aku masih duduk menunggu di sana, kursi tunggu sebuah stasiun di pusat kota Jakarta yang sedang sibuk sebab orang-orang yang sepertinya dengan sengaja juga pergi berpulang pada waktu yang bersamaan denganku, mungkin. Mungkin ada yang satu tujuan denganku, mungkin ada juga yang tidak, mungkin.
            Setelah tiba kereta yang aku akan tumpangi, dengan tidak bersegera, aku memasuki gerbong yang di dalamnya terdapat kursi yang dua hari sebelumnya telah sengaja aku pesan agar aku dapat duduk di sana, di kursi 2A, di samping jendela. Sebuah kursi berbalut kulit sintetis berwarna beige yang sepertinya telah didesain sedemikian rupa untuk dapat menyesuaikan dengan nuansa minimalis pada desain interior gerbong eksekutif ini. Kuletakkan barang bawaanku di kompartemen yang tersedia tepat di langit-langit gerbong, di atas jendela. Kemudian aku duduk dengan berteman David Copperfield karya Charles Dickens serta alunan My Favorite Things hasil komposisi Oscar Hammerstein II yang mengalun mesra melalui earphone ponsel yang sengaja aku putar.
Aku pikir keadaan tidak akan bertambah mesra. Setidaknya hal itu yang sedang kupikirkan sebelum ia akhirnya datang memasuki gerbong ini. Ia adalah wanita seusiaku, dengan potongan rambut panjang menjuntai pada sepertiga punggungnya yang diperindah dengan gelombang pada bagian ujung rambutnya, dengan kacamata lensa besar yang berbingkai menyerupai bentuk persegi, serta dengan kemeja jeans berwarna pale turquoise yang dirangkap menggunakan sweater berwarna ivory white yang juga membuatnya tampak serasi dengan celana panjang chino berwarna coklat sienna serta sepatu kanvas berwarna putih yang ia kenakan itu. Ia meletakkan tas punggung Bonjour Adrien yang ia bawa di atas kompartemen barang. Kemudian, ia duduk di kursi 5A. Dan aku di kursi 2A, membaca David Copperfield pada halaman 27 seperempat paragraf terakhir. Dengan sedikit menengadah, aku melirik pada sosoknya dari belakang.

“Hai,” aku menyapa ia yang sedang duduk sambil mengetikkan jarinya pada layar sentuh ponsel milikknya.
Entahlah pada siapa ia sedang bertukar pesan pada pukul lima sore di saat kereta ini sedang melaju melewati kota Bekasi yang sedang hujan gerimis.
“Eh..? Hai, juga. Ada apa ya?” ia tampak bingung padaku yang tetiba menghampirinya.
“Aku boleh pindah duduk di sebelahmu, ya? Aku terganggu dengan orang yang duduk di sebelahku,” kataku sambil menunjuk tempat di mana aku duduk semula.
Ia melirik sebentar ke arah tempat dudukku, melihat penumpang di sebelah tempat dudukku yang tertidur dengan pulasnya dengan badan yang posisinya sudah miring ke arah tempat dudukku.
Kemudian ia berbalik menatapku dengan senyum yang sepertinya tidak sengaja ia buat akibat dari tawa yang ia tahan setelah melihat penumpang di sebelahku tadi.
“Boleh, kok. Silakan saja,” ia lalu mempersilakanku duduk di kursi 5B, tepat di sebelahnya yang kembali sibuk dengan layar ponselnya itu.
Aku melanjutkan kembali membaca David Copperfield yang telah mencapai halaman 27 pada seperempat paragraf terakhir sambil kupasang earphone-ku kembali untuk membiarkan Freddie Hubbard meniupkan solo trumpet pada lagu yang ia beri judul Red Clay.
“Charles Dickens, ya? Kamu suka baca sastra klasik?” ia bertanya sambil memperhatikan cover belakang buku yang sedang aku baca.
“Ah, engga juga kok. Aku lebih suka puisi ketimbang novel, sih. Buku ini kebetulan saja aku beli pada pameran buku di kampusku minggu lalu,” aku memberikannya penjelasan.
“Wah, penyair dong kamu ya?” ia lanjut bertanya.
“Bisa jadi,” aku menanggapi pertanyaannya sambil tersenyum.
“Kamu sendiri gimana? Apa interest kamu?” aku berbalik bertanya padanya yang kini sudah menyimpan ponselnya agar kami dapat saling bertatap mata dan berbagi cerita.
“Hmm, aku suka musik. Musik ballad, jazz, dan soul lebih tepatnya,” ia merespon pertanyaanku dengan antusias. Sepertinya ia tulus berkata dari hatinya, bukan hanya untuk sekadar meningkatkan harga dirinya di depanku, bukan. Ia tulus menjawabnya.
Ballad, jazz, dan soul, ya? Seperti Rumer? George Gershwin? Diana Krall?” aku kembali bertanya.
“Ya! Kamu juga suka mereka? Aku suka banget sama mereka soalnya. Mereka seperti guru aku untuk bermusik,” ia kembali dengan segala antusiasme yang ia miliki menjawab pertanyaanku tadi.
“Kurang lebih begitu,” jawabku kembali sambil tersenyum dan sesekali menganggukkan kepalaku agar ia mengerti bahwa aku pun sependapat dengannya.
“Eh iya, aku hampir lupa mengenalkan diriku. Namaku Muhammad,” aku mengenalkan diriku sambil menyodorkan tanganku padanya.
“Namaku….”

Ketika ia akan menyebutkan namanya sambil menyambut jabatan tanganku agar kami dapat saling menggenggam erat tangan kami, solo trumpet yang dimainkan oleh Hubbard dalam komposisi lagu Red Clay sedang mencapai klimaksnya. Ketukan drum saling beradu dengan alunan contra bass, electric piano, dan brass section yang mengiringi bagian solo ini. Membuatnya seakan-akan aku dalam kegelisahan tingkat tinggi sehingga mengakibatkan aku berada pada anomali dunia nyata dan alam bawah sadar ini. Aku seperti dalam sebuah perjalanan halusinasi yang tidak aku tahu ke mana ini akan membawaku dan kapan ini akan berhenti. Aku seperti terbawa progresi chord yang dimainkan secara berulang, namun dinamis. David Copperfield yang aku baca sudah mencapai halaman 27 pada seperempat paragraf terakhir. Aku duduk di kursi 2A, dan ia duduk di kursi 5A. Dengan sedikit menengadah, aku melirik pada sosoknya dari belakang.
Kemudian aku buka halaman 28.



Muhammad Al Ghifari
April 2015