Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Wednesday, March 30, 2016

Pada Sebuah Bar (Sebuah Cerpen)

Jika memang yang mungkin terasa sementara tak akan bisa selamanya, maka apakah yang mungkin terasa selamanya tak akan bisa menjadi sementara?

Renungku di atas sebuah kursi kayu berbentuk lingkaran yang kaki-kakinya memiliki tinggi sekira 72 cm itu di posisi kedua dari pojok paling kanan di sebuah bar, di samping kiri dinding yang sedang menggantung poster iklan produk whiskey yang harga satu botolnya dapat membiayai kuliahku selama satu perempat semester itu, di bawah temaram lampu-lampu yang masing-masingnya sengaja digantung dengan kabel ulir yang memanjang dari plafon langit-langit ke fitting-nya, dan di dalam suasana musik lounge yang membawa mood siapa saja yang mendengarnya di malam itu menjadi tenang seperti permukaan danau Plivitce pada remang cahaya bulan di tengah malam di salah satu bagian wilayah Kroasia. Lagu yang diputar sekarang adalah karya Tom Misch.

Seolah ingin memberikan kontradiksi pada suasana yang dicitrakan musik lounge bar pada malam itu, aku berpikir keras sehingga dentuman musik berkategori drum & bass yang hentakannya konstan pada 84 beat per minute tidak lagi terdengar melalui dua rongga telingaku. Di bawah temaram cahaya lampu yang kekuningan ini setiap pasang kaki para manusia pencari kesenangan itu saling bergerak teratur dengan tempo yang diarahkan Tom Misch melalui musiknya. Sebuah keteraturan yang indah menurutku. Aku ingin membaur di sana, tapi tidak, tidak bisa. Aku masih tenang ditemani pikiranku yang mulai mengajakku bercengkrama.

Aku mengalihkan pikiranku dengan cara melempar pandangan pada beberapa pengunjung di antara riuh rendah bunyi bahasa dialog mereka yang tidak dapat aku transkripsi secara satu per satu di dalam otakku. Wajah-wajah yang bahagia dan penuh tawa yang secara spontan terujar dari mulut mereka akibat ujaran kawan bicaranya yang cukup untuk membuat mereka tertawa seperti demikian kiranya, seperti tidak ada beban yang harus dipikirkan di kemudian hari yang memang seharusnya untuk dipikirkan. Tidak, tidak pada malam ini mungkin menurut mereka. Berbeda denganku.

“Hai,” ujarnya yang seketika menghampiriku untuk memecah diam yang sejak tadi bersamaku.
Oh, hai.”
“Mengapa kau di sini?” tanyanya kepadaku secara ramah.
Menenangkan diri, pikiran, apa pun yang bisa aku tenangkan.

Sudah lama kita tidak berjumpa, ya?” Aku berbalik bertanya kepadanya.
“Mengapa? Kau rindu?” Agak menyebalkan ketika ia menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan.
Ya. Tidak. Mungkin…

“…Sangat.” Aku melanjutkan jawaban.

“Tentu saja kau rindu padaku. Dahulu kita indah bersama, kan?”
Ya.
“Tidak setelah sekarang.”
“Setelah kau berteman dengan kesibukanmu bukan. Seolah aku tidak lagi ada. Atas itu semua.”
“Setelah kau dewasa. Seolah masalah merupakan temanmu juga sehingga aku kau yang kau salahkan.”
“Setelah kau tidak lagi menghargaiku yang selalu ada untukmu. Seolah aku tidak ada harganya untuk kemudian kau sia-siakan.”

Iya.
Aku menyesal untuk itu semua. Kembali lah, ada untuk aku lagi. Seperti indahnya dahulu.
Aku menjawab semua pernyataannya tadi.

“Hei, kau tau aku selalu ada.” Jawabnya sambil tersenyum.
Ya. Tidak lagi kau akan aku abaikan.”


Setelah tegukan terakhir dari gelas whiskey ketiga yang aku pesan tadi, aku melihatnya kembali berlalu. Berlalu di antara keramaian manusia di atas lantai bar berbahan marmer yang mengkilap akibat memantulkan cahaya lampu. Ia berlalu setelah tadi menyapaku dengan hangat.

Ia adalah teman lamaku, Tuan Waktu.



Muhammad Al Ghifari
Maret 2016


Wednesday, April 8, 2015

Pada Sebuah Kamar (Sebuah Cerpen)


Akhirnya sepi. Sepi, tidak begitu banyak yang berubah dari suasana ruang apartemen itu. Sebab waktu yang hanya berubah dan mengubah jalan kisah untuk siapa yang terikat. Alfa terduduk dengan tidak bermaksud untuk merenungkan jalan kisahnya, hanya saja memang waktu yang membuatnya terpaksa tidak berdaya di ruang apartemen itu, sepi.

            Senyum yang tidak seorang pun dapat menebak maknanya timbul ragu-ragu pada wajah Theta.
            “Aku yang harus pergi. Aku bersamanya,” Theta membuka suara, pada akhirnya.
            Sepi. Ada diam yang sesungguhnya menghujam rasa, tajam.
            “Jadi? Apakah memang harus begini?” Alfa melempar pertanyaan.
            Setelah air mata yang secara tidak sengaja, dengan tidak tertahan, mengalir dari sepasang mata berwarna coklat milik Alfa itu.
            “Maafkan aku, Alfa.” Theta berkata datar, seolah menyesal tetapi tidak. Tidak, tidak ada yang tahu.
            “Apa maksud dari semua ini?!” Alfa menyentak memecah sepi.

            Kemudian sepi. Apartemen itu adalah kediaman Alfa dan Theta, dengan sentuhan arsitektur scandinavian yang bisa terlihat pada dinding batu-bata berlapis cat putih polos dan perapian berbahan kayu ebony. Memang waktu yang telah mengantarkan mereka pada ulang tahun kelima pernikahan mereka. Seketika jatuh seikat bunga lavender yang pada sekelilingnya dibalut oleh rangkaian melati dari genggaman tangan Alfa yang baru saja tiba di ruangan apartemen itu. Theta di tengah ruangan apartemen itu berdiri, berciuman mesra sambil merangkul leher Gamma dengan begitu lembutnya. Sepi.
Awalnya sepi.



Muhammad Al Ghifari
April 2015

            

Tuesday, April 7, 2015

Pada Sebuah Gerbong (Sebuah Cerpen)


            Senja itu aku berpulang kembali ke kota di mana segala rutinitas aku jalani, kota Bandung, dari Jakarta yang sedang 30 derajat celcius lebih sehingga membuat aku melepaskan jas hitam yang aku kenakan untuk acara sebuah lamaran pernikahan salah seorang saudara yang telah aku hadiri. Dengan menggunakan kereta pukul empat sore, aku masih duduk menunggu di sana, kursi tunggu sebuah stasiun di pusat kota Jakarta yang sedang sibuk sebab orang-orang yang sepertinya dengan sengaja juga pergi berpulang pada waktu yang bersamaan denganku, mungkin. Mungkin ada yang satu tujuan denganku, mungkin ada juga yang tidak, mungkin.
            Setelah tiba kereta yang aku akan tumpangi, dengan tidak bersegera, aku memasuki gerbong yang di dalamnya terdapat kursi yang dua hari sebelumnya telah sengaja aku pesan agar aku dapat duduk di sana, di kursi 2A, di samping jendela. Sebuah kursi berbalut kulit sintetis berwarna beige yang sepertinya telah didesain sedemikian rupa untuk dapat menyesuaikan dengan nuansa minimalis pada desain interior gerbong eksekutif ini. Kuletakkan barang bawaanku di kompartemen yang tersedia tepat di langit-langit gerbong, di atas jendela. Kemudian aku duduk dengan berteman David Copperfield karya Charles Dickens serta alunan My Favorite Things hasil komposisi Oscar Hammerstein II yang mengalun mesra melalui earphone ponsel yang sengaja aku putar.
Aku pikir keadaan tidak akan bertambah mesra. Setidaknya hal itu yang sedang kupikirkan sebelum ia akhirnya datang memasuki gerbong ini. Ia adalah wanita seusiaku, dengan potongan rambut panjang menjuntai pada sepertiga punggungnya yang diperindah dengan gelombang pada bagian ujung rambutnya, dengan kacamata lensa besar yang berbingkai menyerupai bentuk persegi, serta dengan kemeja jeans berwarna pale turquoise yang dirangkap menggunakan sweater berwarna ivory white yang juga membuatnya tampak serasi dengan celana panjang chino berwarna coklat sienna serta sepatu kanvas berwarna putih yang ia kenakan itu. Ia meletakkan tas punggung Bonjour Adrien yang ia bawa di atas kompartemen barang. Kemudian, ia duduk di kursi 5A. Dan aku di kursi 2A, membaca David Copperfield pada halaman 27 seperempat paragraf terakhir. Dengan sedikit menengadah, aku melirik pada sosoknya dari belakang.

“Hai,” aku menyapa ia yang sedang duduk sambil mengetikkan jarinya pada layar sentuh ponsel milikknya.
Entahlah pada siapa ia sedang bertukar pesan pada pukul lima sore di saat kereta ini sedang melaju melewati kota Bekasi yang sedang hujan gerimis.
“Eh..? Hai, juga. Ada apa ya?” ia tampak bingung padaku yang tetiba menghampirinya.
“Aku boleh pindah duduk di sebelahmu, ya? Aku terganggu dengan orang yang duduk di sebelahku,” kataku sambil menunjuk tempat di mana aku duduk semula.
Ia melirik sebentar ke arah tempat dudukku, melihat penumpang di sebelah tempat dudukku yang tertidur dengan pulasnya dengan badan yang posisinya sudah miring ke arah tempat dudukku.
Kemudian ia berbalik menatapku dengan senyum yang sepertinya tidak sengaja ia buat akibat dari tawa yang ia tahan setelah melihat penumpang di sebelahku tadi.
“Boleh, kok. Silakan saja,” ia lalu mempersilakanku duduk di kursi 5B, tepat di sebelahnya yang kembali sibuk dengan layar ponselnya itu.
Aku melanjutkan kembali membaca David Copperfield yang telah mencapai halaman 27 pada seperempat paragraf terakhir sambil kupasang earphone-ku kembali untuk membiarkan Freddie Hubbard meniupkan solo trumpet pada lagu yang ia beri judul Red Clay.
“Charles Dickens, ya? Kamu suka baca sastra klasik?” ia bertanya sambil memperhatikan cover belakang buku yang sedang aku baca.
“Ah, engga juga kok. Aku lebih suka puisi ketimbang novel, sih. Buku ini kebetulan saja aku beli pada pameran buku di kampusku minggu lalu,” aku memberikannya penjelasan.
“Wah, penyair dong kamu ya?” ia lanjut bertanya.
“Bisa jadi,” aku menanggapi pertanyaannya sambil tersenyum.
“Kamu sendiri gimana? Apa interest kamu?” aku berbalik bertanya padanya yang kini sudah menyimpan ponselnya agar kami dapat saling bertatap mata dan berbagi cerita.
“Hmm, aku suka musik. Musik ballad, jazz, dan soul lebih tepatnya,” ia merespon pertanyaanku dengan antusias. Sepertinya ia tulus berkata dari hatinya, bukan hanya untuk sekadar meningkatkan harga dirinya di depanku, bukan. Ia tulus menjawabnya.
Ballad, jazz, dan soul, ya? Seperti Rumer? George Gershwin? Diana Krall?” aku kembali bertanya.
“Ya! Kamu juga suka mereka? Aku suka banget sama mereka soalnya. Mereka seperti guru aku untuk bermusik,” ia kembali dengan segala antusiasme yang ia miliki menjawab pertanyaanku tadi.
“Kurang lebih begitu,” jawabku kembali sambil tersenyum dan sesekali menganggukkan kepalaku agar ia mengerti bahwa aku pun sependapat dengannya.
“Eh iya, aku hampir lupa mengenalkan diriku. Namaku Muhammad,” aku mengenalkan diriku sambil menyodorkan tanganku padanya.
“Namaku….”

Ketika ia akan menyebutkan namanya sambil menyambut jabatan tanganku agar kami dapat saling menggenggam erat tangan kami, solo trumpet yang dimainkan oleh Hubbard dalam komposisi lagu Red Clay sedang mencapai klimaksnya. Ketukan drum saling beradu dengan alunan contra bass, electric piano, dan brass section yang mengiringi bagian solo ini. Membuatnya seakan-akan aku dalam kegelisahan tingkat tinggi sehingga mengakibatkan aku berada pada anomali dunia nyata dan alam bawah sadar ini. Aku seperti dalam sebuah perjalanan halusinasi yang tidak aku tahu ke mana ini akan membawaku dan kapan ini akan berhenti. Aku seperti terbawa progresi chord yang dimainkan secara berulang, namun dinamis. David Copperfield yang aku baca sudah mencapai halaman 27 pada seperempat paragraf terakhir. Aku duduk di kursi 2A, dan ia duduk di kursi 5A. Dengan sedikit menengadah, aku melirik pada sosoknya dari belakang.
Kemudian aku buka halaman 28.



Muhammad Al Ghifari
April 2015



Monday, March 30, 2015

Jalan yang Lain

Aku ini apatis, katanya
Yang meneriakkan perspektifnya di atas asap tembakau
Yang demi sebuah ToA ia mengunjukkan giginya, yang kuning
Yang tidak aku tahu bahwa ia pun tidak tahu

Ah, aku memang apatis, mungkin
Sebab opiniku tidak menerjang, menantang, menutup ruang
Sebab demokratisasi hanya akal tolol hasil berak berdarah
Sebab begitu pikir aku

Aku musuhmu, katanya
Yang berteriak salah atas kesalahan yang dipandang benar
Yang kuantitas mengalahkan kualitas, berat atas agitasi
Yang dirimu seperti ayam ternak hingga untuk akhirnya dipotong, mati

Ah, aku ini apa sih?
Sebab tidak sedikit jua dalih ini mengerti
Sebab aku akan tidak melirik peduli, atas omong kosong berbungkus angan
Sebab belum kenal aku padanya, Halikuljabbar

Yang aku mengerti, kemanusiaan ada di atas perspektifmu
Sebab perspektifmu mengagungkan babi demokrasi
Yang huru-hara engkau padankan atas perjuangan
Sebab aku engkau musuhi karena di sisi jalan lain


Muhammad Al Ghifari
Maret 2015

Monday, August 25, 2014

Sisi Mati

Perspektifmu atas gambaran aku yang kulukiskan dengan letih serta kepayahan di atas kanvas durja berwarna ceria akan tidak menempatkan posisiku berada di nilai presisi, setara, dengan kamu.

Aku akan tidak kecewa ketika sebelah pendengaranmu, penglihatanmu, beralih ke sebelah sisi yang lain dari aku atas hal itu. Aku sungguh akan tidak kecewa.

Gelak tawa terindah itu seandainya ingin kamu ketahui adalah berasal dari sisi mati aku yang terburuk.

Aku akan tidak terbebani, aku akan tersanjung -  dengan sebaliknya - pada segala perspektifmu terhadap aku seperti Yesus yang menunggangi keledainya ke Yerusalem, yang kemudian disambut oleh orang-orang yang menghamparkan jubah dan ranting-ranting baginya.

Sungguh, terima kasih, telah mendengarkanku dan memperhatikanku tiga per empatnya.


Muhammad Al Ghifari
Agustus 2014

Saturday, December 7, 2013

Renungan Jumat Pertama di Bulan Desember

“…bahwa sesungguhnya hanya manusia lah satu-satunya makhluk di dunia ini yang membayar untuk tinggal di bumi…”

Kita mungkin akan tertawa atau bahkan merenung setelah kita gali tesis ini lebih mendalam. Kalimat ini tentu bukan gurauan belaka, mengingat apa yang kita lakukan sehari-hari tidak lepas dari sebuah kegiatan membayar. Membayar. Tidak hanya untuk makan dan membeli segala sesuatu yang diperlukan untuk bertahan hidup, bahkan untuk membuang sisa-sisa proses ekskresi dalam tubuh pun kita harus tetap membayar!

Pertanyaannya adalah, mengapa?

Mengapa manusia saling membayar untuk saling memperoleh keuntungan? Kemudian, kemana kah perginya uang jika semua manusia membayar? Bukan kah jadinya uang tersebut hanya berputar-putar di satu lingkaran yang sama dalam siklus yang tetap? Jika demikian, apa gunanya uang?
Beberapa ekstrimis mungkin berpendapat bahwa uang sebagai simbol dari segala kerja keras kita untuk meraih sesuatu.

Merujuk pada salah satu teori  John Maynard Keynes (motif spekulasi) yang mengatakan bahwa: alasan spekulasi timbul karena adanya keinginan memperoleh keuntungan berdasarkan ramalan dan penghitungan pada masa yang akan datang. Logikanya adalah jika manusia saling membagikan kelebihannya masing-masing antara bidang satu dan yang lainnya, tanpa harus saling membayar, pada akhirnya semua akan tetap saling menguntungkan.

Dengan begitu semua karya dan karsa yang kita buat menjadi maksimal mengingat tidak ada kepentingan untuk harus membayar dan dibayar. Seni akan lebih mudah untuk dinikmati. Tujuan akhir pendidikan menjadi murni untuk saling memberi manfaat, bukan lagi untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya.

Tidak ada yang namanya ‘si kaya’ dan ‘si miskin’, tidak ada yang namanya penguasa dan yang tertindas. Tidak akan ada perang antar negara karena tidak ada kelaparan dan kemiskinan. Pemerintah dan rakyat masing-masing negara sibuk duduk bersama merancang tatanan negara mereka supaya maju, tidak ada lagi mosi tidak percaya karena hal-hal yang berkenaan dengan kekuasaan. Tidak akan ada dendam, tidak  akan ada hutang.

Tidak akan ada keburukan.

Muhammad Al Ghifari
Desember 2013