Tuesday, April 7, 2015

Pada Sebuah Gerbong (Sebuah Cerpen)


            Senja itu aku berpulang kembali ke kota di mana segala rutinitas aku jalani, kota Bandung, dari Jakarta yang sedang 30 derajat celcius lebih sehingga membuat aku melepaskan jas hitam yang aku kenakan untuk acara sebuah lamaran pernikahan salah seorang saudara yang telah aku hadiri. Dengan menggunakan kereta pukul empat sore, aku masih duduk menunggu di sana, kursi tunggu sebuah stasiun di pusat kota Jakarta yang sedang sibuk sebab orang-orang yang sepertinya dengan sengaja juga pergi berpulang pada waktu yang bersamaan denganku, mungkin. Mungkin ada yang satu tujuan denganku, mungkin ada juga yang tidak, mungkin.
            Setelah tiba kereta yang aku akan tumpangi, dengan tidak bersegera, aku memasuki gerbong yang di dalamnya terdapat kursi yang dua hari sebelumnya telah sengaja aku pesan agar aku dapat duduk di sana, di kursi 2A, di samping jendela. Sebuah kursi berbalut kulit sintetis berwarna beige yang sepertinya telah didesain sedemikian rupa untuk dapat menyesuaikan dengan nuansa minimalis pada desain interior gerbong eksekutif ini. Kuletakkan barang bawaanku di kompartemen yang tersedia tepat di langit-langit gerbong, di atas jendela. Kemudian aku duduk dengan berteman David Copperfield karya Charles Dickens serta alunan My Favorite Things hasil komposisi Oscar Hammerstein II yang mengalun mesra melalui earphone ponsel yang sengaja aku putar.
Aku pikir keadaan tidak akan bertambah mesra. Setidaknya hal itu yang sedang kupikirkan sebelum ia akhirnya datang memasuki gerbong ini. Ia adalah wanita seusiaku, dengan potongan rambut panjang menjuntai pada sepertiga punggungnya yang diperindah dengan gelombang pada bagian ujung rambutnya, dengan kacamata lensa besar yang berbingkai menyerupai bentuk persegi, serta dengan kemeja jeans berwarna pale turquoise yang dirangkap menggunakan sweater berwarna ivory white yang juga membuatnya tampak serasi dengan celana panjang chino berwarna coklat sienna serta sepatu kanvas berwarna putih yang ia kenakan itu. Ia meletakkan tas punggung Bonjour Adrien yang ia bawa di atas kompartemen barang. Kemudian, ia duduk di kursi 5A. Dan aku di kursi 2A, membaca David Copperfield pada halaman 27 seperempat paragraf terakhir. Dengan sedikit menengadah, aku melirik pada sosoknya dari belakang.

“Hai,” aku menyapa ia yang sedang duduk sambil mengetikkan jarinya pada layar sentuh ponsel milikknya.
Entahlah pada siapa ia sedang bertukar pesan pada pukul lima sore di saat kereta ini sedang melaju melewati kota Bekasi yang sedang hujan gerimis.
“Eh..? Hai, juga. Ada apa ya?” ia tampak bingung padaku yang tetiba menghampirinya.
“Aku boleh pindah duduk di sebelahmu, ya? Aku terganggu dengan orang yang duduk di sebelahku,” kataku sambil menunjuk tempat di mana aku duduk semula.
Ia melirik sebentar ke arah tempat dudukku, melihat penumpang di sebelah tempat dudukku yang tertidur dengan pulasnya dengan badan yang posisinya sudah miring ke arah tempat dudukku.
Kemudian ia berbalik menatapku dengan senyum yang sepertinya tidak sengaja ia buat akibat dari tawa yang ia tahan setelah melihat penumpang di sebelahku tadi.
“Boleh, kok. Silakan saja,” ia lalu mempersilakanku duduk di kursi 5B, tepat di sebelahnya yang kembali sibuk dengan layar ponselnya itu.
Aku melanjutkan kembali membaca David Copperfield yang telah mencapai halaman 27 pada seperempat paragraf terakhir sambil kupasang earphone-ku kembali untuk membiarkan Freddie Hubbard meniupkan solo trumpet pada lagu yang ia beri judul Red Clay.
“Charles Dickens, ya? Kamu suka baca sastra klasik?” ia bertanya sambil memperhatikan cover belakang buku yang sedang aku baca.
“Ah, engga juga kok. Aku lebih suka puisi ketimbang novel, sih. Buku ini kebetulan saja aku beli pada pameran buku di kampusku minggu lalu,” aku memberikannya penjelasan.
“Wah, penyair dong kamu ya?” ia lanjut bertanya.
“Bisa jadi,” aku menanggapi pertanyaannya sambil tersenyum.
“Kamu sendiri gimana? Apa interest kamu?” aku berbalik bertanya padanya yang kini sudah menyimpan ponselnya agar kami dapat saling bertatap mata dan berbagi cerita.
“Hmm, aku suka musik. Musik ballad, jazz, dan soul lebih tepatnya,” ia merespon pertanyaanku dengan antusias. Sepertinya ia tulus berkata dari hatinya, bukan hanya untuk sekadar meningkatkan harga dirinya di depanku, bukan. Ia tulus menjawabnya.
Ballad, jazz, dan soul, ya? Seperti Rumer? George Gershwin? Diana Krall?” aku kembali bertanya.
“Ya! Kamu juga suka mereka? Aku suka banget sama mereka soalnya. Mereka seperti guru aku untuk bermusik,” ia kembali dengan segala antusiasme yang ia miliki menjawab pertanyaanku tadi.
“Kurang lebih begitu,” jawabku kembali sambil tersenyum dan sesekali menganggukkan kepalaku agar ia mengerti bahwa aku pun sependapat dengannya.
“Eh iya, aku hampir lupa mengenalkan diriku. Namaku Muhammad,” aku mengenalkan diriku sambil menyodorkan tanganku padanya.
“Namaku….”

Ketika ia akan menyebutkan namanya sambil menyambut jabatan tanganku agar kami dapat saling menggenggam erat tangan kami, solo trumpet yang dimainkan oleh Hubbard dalam komposisi lagu Red Clay sedang mencapai klimaksnya. Ketukan drum saling beradu dengan alunan contra bass, electric piano, dan brass section yang mengiringi bagian solo ini. Membuatnya seakan-akan aku dalam kegelisahan tingkat tinggi sehingga mengakibatkan aku berada pada anomali dunia nyata dan alam bawah sadar ini. Aku seperti dalam sebuah perjalanan halusinasi yang tidak aku tahu ke mana ini akan membawaku dan kapan ini akan berhenti. Aku seperti terbawa progresi chord yang dimainkan secara berulang, namun dinamis. David Copperfield yang aku baca sudah mencapai halaman 27 pada seperempat paragraf terakhir. Aku duduk di kursi 2A, dan ia duduk di kursi 5A. Dengan sedikit menengadah, aku melirik pada sosoknya dari belakang.
Kemudian aku buka halaman 28.



Muhammad Al Ghifari
April 2015



No comments:

Post a Comment