Monday, May 30, 2016

Pada Sebuah Teras (Sebuah Cerpen)

Bau tanah basah selepas hujan turun, manja sinar matahari di antara pukul 8 hingga 10 pagi yang menyusup diam-diam melalui dedaunan pada pohon, tujuh per delapan beat musik jazz yang mengayun dengan was-was yang disertai nada-nada lydian dan dorian namun dengan demikian ia menciptakan dinamika mood yang kontras tiap bar-nya bagi siapa pun yang mendengar, campuran aroma robusta yang telah digiling dengan teliti serta diseduh dengan air panas melalui proses French press dan aroma tembakau yang dibakar, merupakan beberapa dari banyak hal yang aku sukai. Kesempurnaan bagiku adalah dengan dapat kunikmati keseluruhan hal tersebut pada satu waktu. Itu adalah terjadi di pagi ini. Pagi ini adalah tepat pukul delapan lewat empat puluh tiga di sebuah teras kedai kopi. Teras itu memiliki desain interior dengan konsep mid-century modern style yang terdefinisi dengan mayoritas material berbahan kayu dan dengan adanya lampu model sputnik chandelier yang tergantung di plafon teras yang langsung menghadap ke kebun yang ditanami berbagai jenis pohon yang aku tidak ingin klasifikasikan jenisnya satu per satu.

Aku menghirup aroma kopi yang baru saja berpindah dari baki seorang waiters ke atas meja berbahan jati tempat aku berada pagi ini kemudian aku menyeruputnya dengan tidak tergesa-gesa.

“Pahit,” ujarku tak bersuara.

Memang aku tidak terbiasa untuk menikmati kopiku dengan tambahan gula sehingga membuat rasanya menjadi tidak pahit. Aku lebih suka menikmatinya begitu saja; hangat dan tanpa gula.

“Nikmat.”

Aku menutup seruput kopi keduaku untuk meninggalkannya sejenak agar beberapa derajat celcius yang terukur pada cangkir kopi ini berubah skalanya menjadi sedikit lebih kecil daripada sebelumnya sambil aku menelusuri beberapa headline berita yang terpampang pada koran hari ini.

Tepat pada sembilan lewat tujuh belas, bel gantung di pintu depan kedai kopi itu berbunyi bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut agar dengan demikian bunyi itu memberi tanda bahwa ada pengunjung yang hadir. Aku secara tidak bersamaan dengan bunyinya bel itu melemparkan pandanganku ke sumber bunyi tersebut untuk mengidentifikasi wajah-wajah yang baru saja hadir di pagi ini. Oh, rupanya hanya satu wajah. Sosok wanita berkacamata dengan rambut hitam panjang sepertiga punggung yang warna kulitnya kuning langsat. Ia mengenakan kemeja putih dengan celana bahan panjang berwarna hitam yang dilengkapi dengan sepatu wedges berwarna flax. Serta lihat lah itu tas jinjingnya yang berbahan kulit. Cantik.

Aku sangat mengaggumi segala ciptaan Tuhan. Alam semesta, inspirasi yang hadir ketika kaum kulit gelap sedang berelegi sehingga mereka menyalurkannya ke dalam nada-nada indah yang orang sebut sebagai musik jazz, dan tentu saja aku mengaggumi dia yang baru saja masuk ke dalam kedai kopi ini dan masuk ke dalam diafragma mataku untuk kemudian mungkin diteruskan, ya, mungkin diteruskan ke dalam hati. Sejenak aku memandangnya serta sejenak kemudian pula aku menyadari sesuatu. Dia adalah kawanku. Kawanku sepuluh tahun yang lalu. Di universitas itu. Ya, itu dia.

Dia tidak biasa bagiku, tepatnya sepuluh tahun yang lalu. Aku pernah mengagumi dia dan tidak sempat aku mengatakan kepadanya oleh sebab kesempatan yang tidak memungkinkan dan alam semesta yang aku rasa dulu tidak pernah mendukungku. Sepuluh tahun kemudian, di tempat ini, aku bertemu dia. Apakah ini bentuk dukunganmu, alam?

Dengan agak ragu namun tetap berpegang pada rindu sepuluh tahun tak berjumpa dan keyakinanku atas permainan alam semesta di pagi ini aku menghampirinya untuk menyapa.

Hai,” sapaku hangat untuknya.
“Ya? Siapa, ya?” Dia menyapaku kembali dengan refleks yang menurutku wajar sebab aku asing baginya.
Ini aku, kawanmu sepuluh tahun lalu di universitas itu.”
“Ya, Tuhan! Kamu? Apa kabar?” Ia terkejut, terlihat dari pupil matanya yang membesar dan ekspresinya yang berubah drastis.
Baik. Kamu bagaimana? Yuk, duduk di mejaku.” Aku mengajaknya untuk berbicara.
Dia mengiyakan ajakanku tadi.

Lalu kini kami berada di meja tempatku semula berada tadi, melepas rindu melalui kata demi kata, cerita demi cerita, serta tawa. Jangka waktu yang terlewat sehingga menciptkan jarak yang begitu renggang di antara kami kini seolah tidak bermakna lagi. Kami kembali pada sepuluh tahun yang lalu melalui percakapan ini.

Mau pesan kopi?” Aku menawarkan.
“Aku bawa botol air mineralku, ada di tasku.” Ia mengeluarkan botolnya sambil tersenyum bersamaan dengan bunyi smartphone yang menurut pendengaranku berasal dari dalam tasnya.
“Halo? Oh, iya. Aku di dalam ya. Ada. Sama kawan lamaku. Tak direncanakan kok. Iya. Oke. Dah.”
Ia menjawab panggilan masuk tersebut.
“Sampai mana kita tadi? Ah iya!”

Lalu kami saling berbicara kembali. Berbicara tentang hal-hal di masa lalu hingga masa kini. Aku senang berbicara dengannya, tatap matanya selalu terlihat berbinar menandakan bahwa ia tertarik dengan hal-hal yang aku utarakan. Senyumannya masih sama untuk membuatku terkagum padanya waktu sepuluh tahun yang lalu itu. Sekarang pun aku terkagum. Apa ini maksudmu, alam? Bantu aku.

Di saat kami sedang berbicara, bel gantung di pintu depan kedai kopi itu berbunyi bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut agar dengan demikian bunyi itu memberi tanda bahwa ada pengunjung yang hadir. Aku secara tidak bersamaan dengan bunyinya bel itu melemparkan pandanganku ke sumber bunyi tersebut untuk mengidentifikasi wajah-wajah yang baru saja hadir di pagi ini. Oh, rupanya hanya satu wajah. Dia pun melemparkan pandangannya ke sumber bunyi tersebut untuk mengidentifikasi. Seorang dengan perawakan yang tinggi dilengkapi dengan bentuk dada yang membidang. Ia mengenakan kemeja putih dengan celana bahan panjang berwarna hitam yang dilengkapi dengan sepatu docmart berwarna cinnamon untuk menyatakan gaya casual-nya.

“Hei! Di sini, lho. Di sini!” Secara tiba-tiba dia melambaikan tangan untuk memanggil pria itu. Pria tersebut lalu membalas lambaian tangannya dan menghampiri tempat kami berada.

Sesaat pria tersebut berada di tengah-tengah keberadaan kami, dia berbicara kepada pria itu.

“Kenalkan, ini kawanku di universitas itu sepuluh tahun yang lalu.”

Aku tersentak, diam untuk sejenak sambil bertanya-tanya banyak. Pria itu menjulurkan tangannya sambil menyebutkan nama dan tersenyum. Aku membalas menjulurkan tanganku untuk menjabat tangannya sambil menyebutkan namaku.

Salam kenal,” ujarku pada pria itu setelah berjabat tangan.

“Aku pesan untuk take away lalu kutunggu kamu di luar, ya?” Pria itu berkata kepada dia.
“Oke,” dia merespon ucapan pria itu.

Setelah itu kami saling berbicara kembali untuk beberapa saat sebelum kulihat dia membereskan beberapa isi tasnya yang sebelumnya ia keluarkan untuk diletakkan di atas meja jati ini. Dia meminta izinku untuk pergi mendahuluiku. Dengan tersenyum namun di dalam hati sebenarnya tak ingin, aku mengiyakan.

Mau pergi ke mana kamu sekarang?”
“Ke luar, menemuinya.” Jawab dia.
Pria tadi? Oh, aku sampai lupa bertanya. Siapa pria itu?”
Dia berdiri setelah membereskan isi tasnya, merapikan tempat duduknya ke posisi semula yakni berada rapat dengan ujung meja jati itu, lalu merapikan rambutnya sambil tersenyum dan menjawab pertanyaan yang tadi aku berikan.

“Suamiku.” Katanya demikian lalu melanjutkan.
“Sampai jumpa lagi?”

Aku kembali tersentak, diam untuk sejenak sambil bertanya-tanya banyak. Lalu aku menjawab.

Ya, sampai jumpa lagi.”

Dia kemudian berlalu dari pandanganku, berlalu keluar dari diafragma mataku bersamaan keluar dari hatiku, menyisakan rongga sedemikian besar-kecil luasnya namun sangat terasa bagiku untuk dapat diartikan sebagai rasa hampa. Ia pernah sesaat ada, kini ia kembali tak ada. Sepuluh tahun aku menunggu untuk alam merancang permainannya di pagi ini, lalu berlalu begitu saja. Kini waktu menunjukkan sepuluh lewat sembilan belas. Aku menenggak habis cangkir kopiku yang sudah lama dingin itu. Ya, kopiku masih pahit seperti semula tadi aku mulai meminumnya. Seperti saat tadi ia masih hangat hingga sekarang ia berganti menjadi dingin. Kopi ini memang pahit, namun bagaimana kopi itu bisa nikmat bergantung pada cara memaknainya. Seperti hidup ini. Seperti hal yang baru saja terjadi kepadaku di pagi ini, di teras kedai kopi ini.

“Nikmat,” ujarku saat meletakkan kembali cangkir kopiku yang sudah kosong itu.


Muhammad Al Ghifari
Mei 2016



Thursday, May 26, 2016

Pada Sebuah Titik (Sebuah Cerpen)

Bukan pada sebuah ruang keluarga berbentuk persegi panjang dengan perapian berada tepat di depan sofa berbungkus kulit berwarna dark scarlet dan dengan karpet berbahan polypropylene di antaranya aku berada pada malam ini. Di sana tidak hangat seperti yang aku deskripsikan.
Bukan pada senja dengan langit menjingga dengan anginnya yang bertiup tidak kencang sehingga dedaunan yang dengan setia berintegrasi pada rantingnya bergerak teratur naik turun mengikuti arah yang ditiupkan lalu kemudian siapa pun secara segera menciptakan romantisasi terhadap hal tersebut yang aku rasa klise. Di sana tidak romantis seperti yang aku deskripsikan.

Bukan di antara tawa dan percakapan manusia, juga denting gelas-gelas bir yang beradu dan konstan beat musik lounge serta kelabu asap tembakau, sebagai permulaan para individu ini mengalterasi diri mereka sebagai utopist yang pada sepercik waktu melupakan nyata dunia aku berdiri. Di sana tidak ramai seperti yang aku deskripsikan.
Bukan pada hijau lembah Semeru dengan danau di tengahnya yang pada tengah hari ia menguap menjadi awan yang meneduhi apa pun yang ada di bawahnya lalu pada awal hari ia berkondensasi menjadi embun untuk kembali berada di bawah sana mengulangi proses yang sama selanjutnya. Di sana tidak indah seperti yang aku deskripsikan.

Coba hilangkan ramai suara itu, romantisasi atas suasana yang berlangsung itu, kehangatan yang menaungi itu, serta keindahan yang menghiasi itu. Kau akan temukan aku.


Muhammad Al Ghifari
Mei 2016

Tuesday, May 17, 2016

Pada Sebuah Boulevard (Sebuah Cerpen)

Aku melemparkan sekeping uang logam ke dalam instalasi seni berupa bejana air berbentuk seperti tempayan dengan ukiran bunga yang menjalar yang dengan bantuan motor listrik ia dapat menyemburkan air ke arah langit agar percikannya turun kembali memenuhi bejana tersebut secara teratur dan memiliki nilai estetika bagi siapa yang memandangnya. Itu adalah kepingan uang logam yang sebelumnya bertempat di dalam kantong kemeja flannel berwarna navy blue yang aku kenakan pada hari yang sedang mendung ini. Di tengah boulevard yang tidak terlalu banyak orang yang berjalannya itu aku berdiri, memandang langit sejenak, menghembuskan satu tarikan nafas, kemudian aku duduk di kursi kayu pada garis antara jalan dan rerumputan taman.

“Hai, dunia. Kau terlalu sibuk,” aku berujar dalam diam.
“Tidak bisakah kau beristirahat sejenak agar kita berada dalam posisi yang sejajar?”
“Apa? Bukan seperti itu kah, dunia?”
“Ah, benar.”
“Aku yang mungkin sudah payah dan terlanjur lelah,” sambil tersenyum aku masih berujar dalam diam.

Hari itu adalah hari yang tidak buruk menurutku. Mendung yang terhampar di antara angkasa sore itu tidak kupandang sebagai pertanda hal yang kelam, melainkan suatu teduh yang meskipun saling berfriksi dengan kelit definisi yang aku sampaikan mengenainya, tetapi ia harmoni. Setidaknya harmoni denganku. Mungkin orang-orang yang tampak dalam batas lensa mataku yang sudah lama minus 5,75 di depanku ini, yang sejajar posisinya dengan berjalannya dunia, yang masih tangguh dan tidak pula lelah, memiliki persepsi yang berbeda terhadap langit mendung sore hari ini yang tadi kudefinisikan.

“Dunia, kau memberiku banyak warna. Dengan masing-masing makna,” aku melanjutkan.
“Oh, tentu saja aku tahu!”
“Agar menjadi indah menurutmu, kan?”
“Ah..”
“Jika pemberianmu adalah pilihan, tentu tidak kupilih itu warna yang kegelap-gelapan.”
“Tapi kini semuanya sudah saling berdistraksi menjadi kegelap-gelapan, karena tidak bisa aku memilih.”

Aku ingin melemparkan koin kedua, tetapi kantong flannel ini sudah tidak berisi.

“Lalu apa ini maksud dari konsep menunggu?” kembali aku berujar, masih dalam diam.
“Hahaha..” aku tertawa, yang menurut Putu Wijaya tergolong ke dalam tertawa karena terlalu jengkel dan putus asa dalam klasifikasi tawa yang ia lampirkan dalam Goro-Goro.
“Menunggu seolah menyuruh kita istirahat, padahal tidak.”
“Aku memang harus menunggu, untuk apa pun itu. Bahkan untuk ini.”
“Untuk berhenti. Biar aku yang beristirahat atas kau yang menurutku terlalu sibuk.”
“Maafkan aku yang payah ini, dunia.”

Lalu riuh rendah percakapan orang-orang pada boulevard di tengah perkotaan ini terdengar seimbang dengan segala ujaranku dalam diam tadi. Lalu aku yang berhenti berujar agar dapat mendengar, mengalah pada sekitar. Seakan ingin berkolaborasi, derum berbagai jenis kendaraan yang melintas pada jalan raya ikut mengisi indera pendengaran ini. Tak lupa bunyi percikan air pada bejana yang tadi aku jelaskan di awal. Serta burung-burung, angin sore, bel sepeda, kerikil yang dilempar anak-anak ke tong sampah, plastik atau kertas yang saling bergesek, notifikasi pesan pada smartphone, dan lain-lainnya. Bunyi dunia. Dunia yang kembali meninggalkanku pada posisi semula.


Muhammad Al Ghifari
Mei 2016




Friday, May 6, 2016

Menunggu Berlalu

Jika bukan lewat udara aku sematkan sapa
Tentang kelabu risau berkonteks atma kama
Kepada apa ia berintegrasi
Agar kemudian jadi harmoni?

Aku ingin menjerit perih
Pada kafilah tuli tak bernyali
Sebab hanya mereka tak mengerti
Bahasa frustrasi atas sublimasi asih

Ah, konotasi ini
Jadi ambigu nanti
Jika memang berinti
Apa ini berarti?

Tapi,

Baru aku tau
Rupanya menunggu
Atau berlalu
Keduanya sama pilu


Muhammad Al Ghifari
Mei 2016

Friday, April 29, 2016

Menikmati Sementara

Apabila waktu berlalu
Akan tidak kau menuju
Pada aku, dengan kelabu

Tapi ini apa?
Apa ini, tapi
Apa?

Apabila asa bermuka renjana
Biar aku yang menuju ke sana
Pada kau, menikmati sementara

Asa ini apa?
Apa ini, asa
Apa?


Muhammad Al Ghifari
April 2016

Wednesday, March 30, 2016

Pada Sebuah Bar (Sebuah Cerpen)

Jika memang yang mungkin terasa sementara tak akan bisa selamanya, maka apakah yang mungkin terasa selamanya tak akan bisa menjadi sementara?

Renungku di atas sebuah kursi kayu berbentuk lingkaran yang kaki-kakinya memiliki tinggi sekira 72 cm itu di posisi kedua dari pojok paling kanan di sebuah bar, di samping kiri dinding yang sedang menggantung poster iklan produk whiskey yang harga satu botolnya dapat membiayai kuliahku selama satu perempat semester itu, di bawah temaram lampu-lampu yang masing-masingnya sengaja digantung dengan kabel ulir yang memanjang dari plafon langit-langit ke fitting-nya, dan di dalam suasana musik lounge yang membawa mood siapa saja yang mendengarnya di malam itu menjadi tenang seperti permukaan danau Plivitce pada remang cahaya bulan di tengah malam di salah satu bagian wilayah Kroasia. Lagu yang diputar sekarang adalah karya Tom Misch.

Seolah ingin memberikan kontradiksi pada suasana yang dicitrakan musik lounge bar pada malam itu, aku berpikir keras sehingga dentuman musik berkategori drum & bass yang hentakannya konstan pada 84 beat per minute tidak lagi terdengar melalui dua rongga telingaku. Di bawah temaram cahaya lampu yang kekuningan ini setiap pasang kaki para manusia pencari kesenangan itu saling bergerak teratur dengan tempo yang diarahkan Tom Misch melalui musiknya. Sebuah keteraturan yang indah menurutku. Aku ingin membaur di sana, tapi tidak, tidak bisa. Aku masih tenang ditemani pikiranku yang mulai mengajakku bercengkrama.

Aku mengalihkan pikiranku dengan cara melempar pandangan pada beberapa pengunjung di antara riuh rendah bunyi bahasa dialog mereka yang tidak dapat aku transkripsi secara satu per satu di dalam otakku. Wajah-wajah yang bahagia dan penuh tawa yang secara spontan terujar dari mulut mereka akibat ujaran kawan bicaranya yang cukup untuk membuat mereka tertawa seperti demikian kiranya, seperti tidak ada beban yang harus dipikirkan di kemudian hari yang memang seharusnya untuk dipikirkan. Tidak, tidak pada malam ini mungkin menurut mereka. Berbeda denganku.

“Hai,” ujarnya yang seketika menghampiriku untuk memecah diam yang sejak tadi bersamaku.
Oh, hai.”
“Mengapa kau di sini?” tanyanya kepadaku secara ramah.
Menenangkan diri, pikiran, apa pun yang bisa aku tenangkan.

Sudah lama kita tidak berjumpa, ya?” Aku berbalik bertanya kepadanya.
“Mengapa? Kau rindu?” Agak menyebalkan ketika ia menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan.
Ya. Tidak. Mungkin…

“…Sangat.” Aku melanjutkan jawaban.

“Tentu saja kau rindu padaku. Dahulu kita indah bersama, kan?”
Ya.
“Tidak setelah sekarang.”
“Setelah kau berteman dengan kesibukanmu bukan. Seolah aku tidak lagi ada. Atas itu semua.”
“Setelah kau dewasa. Seolah masalah merupakan temanmu juga sehingga aku kau yang kau salahkan.”
“Setelah kau tidak lagi menghargaiku yang selalu ada untukmu. Seolah aku tidak ada harganya untuk kemudian kau sia-siakan.”

Iya.
Aku menyesal untuk itu semua. Kembali lah, ada untuk aku lagi. Seperti indahnya dahulu.
Aku menjawab semua pernyataannya tadi.

“Hei, kau tau aku selalu ada.” Jawabnya sambil tersenyum.
Ya. Tidak lagi kau akan aku abaikan.”


Setelah tegukan terakhir dari gelas whiskey ketiga yang aku pesan tadi, aku melihatnya kembali berlalu. Berlalu di antara keramaian manusia di atas lantai bar berbahan marmer yang mengkilap akibat memantulkan cahaya lampu. Ia berlalu setelah tadi menyapaku dengan hangat.

Ia adalah teman lamaku, Tuan Waktu.



Muhammad Al Ghifari
Maret 2016


Tuesday, February 23, 2016

Pada Sebuah Bank (Sebuah Cerpen)

Itu adalah musim dingin di tahun 2003 ketika aku pertama melihat wajahnya di antara ramai orang-orang yang memenuhi setiap petak taman di Central Park yang sedang bersalju di sebuah kota yang tak pernah tidur. Seorang teman yang pertama kali aku kenal saat aku kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan New York dimana aku sengaja memilih tempat itu untuk meneruskan pendidikan sarjana ekonomiku. Ia adalah sosok laki-laki pada umumnya dengan gaya berpakaian a la jalanan yang secara konsep tidak pernah aku mengerti sebab gaya ini dengan bebasnya memadukan segala jenis pakaian dalam satu waktu. Cardigan dengan cargo pants, turtleneck sweater dengan hot pants, atau tuxedo dengan legging pants, apa itu? Suatu bencana aku pikir.

Itu adalah musim panas tahun 2004 saat kami sedang duduk bersama di pinggir suatu pantai di daerah Cannes yang sedang senja. Ia sedang meminum sebotol Guinness dingin di bawah payung besar yang menaungi kami ketika duduk di bawah langit yang berwarna jingga itu. Atmosfir pantai yang tenang dengan didukung angin yang berhembus tidak kencang membuat perasaan siapa saja yang sedang berada di sana menjadi damai seperti tidak ada waktu dan rutinitas yang mengikatnya agar dengan demikian seseorang tersebut harus selalu merasa sibuk hingga tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri menikmati dunia. Kemudian tanpa aku sadari sebelumnya, ia berdiri di depanku sambil memberikan sebuah cincin permata sebagai tanda bahwa ia tidak menganggap hubungan kami selesai hanya sebatas teman saja, sebagai tanda bahwa ia bukan seorang pria yang masih ingin bermain-main dengan masa lajangnya, sebagai tanda bahwa kami akan membuat sebuah janji tanpa tulisan bahwa kami akan tidak mencari lagi sosok pasangan untuk saling memberi dan berbagi suatu hal yang sangat dalam dan terlalu abstrak jika dituliskan hanya dengan sebuah kata saja – ini lebih dari itu.

“Ya.” Aku berujar sebelum ia mencium bibirku dengan lembut dan menimang diriku sampai ke suite tempat kami menginap yang menghadap ke arah hamparan laut luas sehingga jika malam hari tiba lampion-lampion yang digantung di sepanjang pantai dapat terlihat indah cahayanya yang masing-masing memiliki warna yang berbeda. Lalu kami bercinta malam itu diiringi album Charlie Parker ketika ia bermain dalam Savoy and Dial Sessions yang menurutku merupakan album terbaik yang pernah direkam.

Itu adalah pertengahan tahun 2005 di tengah pusat kota London yang sedang hujan gerimis ketika aku sedang menyeruput secangkir robusta hangat ditemani oleh sosok dirinya pada sebuah kedai kopi di pinggir perempatan jalan yang pada tiap sudut jalanannya terdapat zebra-cross yang catnya agak memudar akibat terkena radiasi sinar matahari selama bumi berotasi di siang hari agar kemudian matahari tersebut tidak selamanya memberikan radiasinya kepada seluruh penghuni bumi oleh sebab kadar radiasi matahari telah ditetapkan jumlah secara rinci oleh sang pemilik alam semesta supaya kehidupan berjalan dengan baik meskipun terkadang ada saja hal-hal yang membuat kebaikan seolah tidak hadir di antara kami, seperti saat masalah yang timbul di antara kehidupan misalnya. Sama seperti sore yang sedang gerimis itu. Aku sebenarnya tidak ingin menganggapnya sebagai masalah, tetapi tetap saja, ada yang salah sepertinya. Ada yang salah pada dirinya, sepertinya. Setelah meneguk arabica yang sebelumnya telah ia pesan, ia membuka kalimat.

“Maaf.”
“Maaf sebab?”
“Ya, uh.. Apa ya..”
“Bicara saja, seperti kau bicara seperti biasanya kepadaku.”
“Iya. Akan aku lakukan.”
“Sekarang.”
“Akan. Tunggu lah.”
“…”
“Baik.”
“Ya?”
“Maaf.”
“…”
“Maaf karena aku tidak bisa bersama kamu lagi. Kamu pantas untuk mendapatkan orang yang lebih baik.”
“Maksudmu?”
“Iya. Itu maksudku.”

Aku melepaskan cangkir yang sedari tadi aku genggam sehingga cangkir itu kini berada di atas meja berbahan kayu bubinga yang tiap serat kayunya memiliki jarak yang lebar-lebar, cukup lebar sehingga menimbulkan motif belang-belang pada permukaan meja kayu itu. Lalu aku menatap dalam ke matanya sambil menahan seribu pertanyaan yang ingin aku keluarkan dalam satu waktu seperti “Kenapa?”, “Apa sebabnya?”, “Kamu sedang bercanda, kan?”, “Siapa yang menyebabkan kamu mengambil keputusan ini?”, “Siapa orang baru itu?”, “Bagaimana dengan kita?”, dan sembilan ratus sembilan puluh empat pertanyaan lain semacam itu yang seluruhnya siap keluar dari mulutku secara bersamaan. Nyatanya tidak bisa. Hanya diam yang bisa aku lakukan. Lalu ia tersenyum sebelum berkata dan kemudian berlalu.

“Semuanya akan baik-baik saja. Jika tidak baik menurutmu, maka ini bukan akhir atas segalanya.”

Aku masih diam di situ. Seolah dunia menyempit saat ia kemudian berjalan keluar dari kedai kopi itu. Ia berjalan tanpa kemudian membalikkan pandangannya kepadaku sebelum akhirnya benar-benar hilang dari pandangan mataku. Seolah waktu berhenti saat itu. Dan itu air mataku yang jatuh membasahi mata dan eyeliner-ku untuk kemudian itu turun membasahi pipi kiriku terlebih dahulu sebagai pertanda bahwa sedih yang menyebabkan itu jatuh dari mataku. Hal yang ia tinggalkan kepadaku saat itu adalah kenangan dan sebuah cincin permata yang sebelumnya ia letakan di setengah bagian meja dimana tempat ia duduk sebelumnya.

Itu adalah 2016 pada Februari yang sedang cerah di meja kerjaku pada sebuah ruangan yang pada pintunya terdapat tulisan namaku beserta jabatanku di kantor ini agar kemudian orang-orang yang melintas di depannya menjadi tahu bahwa ini adalah ruanganku untuk bekerja sebagai manajer bank. Itu semua terlintas ketika aku sedang duduk dan memandangi cincin permata yang dulu ia berikan saat meninggalkanku di London sendiri sebelas tahun yang lalu tanpa ada kabar tentangnya hingga kini. Seketika aku menyandarkan tubuhku untuk melepaskan diriku dari lamunan panjang yang baru saja terjadi, bunyi letusan senjata api beserta bunyi pecahan kaca menyeruak dari arah pintu utama bank. Pintu ruang kerjaku didobrak secara paksa oleh dua orang yang mengenakan topeng hitam agar dengan demikian hanya kedua bola mata dan garis bibirnya saja yang dapat terlihat.

Mereka membawa paksa aku untuk keluar dari ruang kerjaku dan kemudian dikumpulkan bersama para pegawai dan nasabah bank yang hadir pada hari itu. Kami semua berada pada posisi tengkurap dengan posisi tangan yang terikat di punggung. Aku melemparkan pandanganku ke sekeliling ruangan ini sehingga aku mendapati bahwa sekawanan perampok itu berjumlah lima orang.

“Semua harap tenang. Tidak akan ada yang terluka jika kerjasama yang baik terjalin di antara kita.”
Ujar salah satu dari mereka sambil menggiring paksa rekan kerjaku untuk membukakan pintu brankas agar dengan demikian tiga kawanan perampok selain dirinya dapat masuk ke dalam untuk mengambil sejumlah uang yang akan memenuhi beberapa tas jinjing yang mereka bawa. Satu orang lainnya tampak menjaga dan mengawasi pintu utama bank.

Setelah mereka selesai melakukan apa yang ingin mereka lakukan tersebut mereka meninggalkan bank lalu berjalan ke arah mobil van berwarna navy blue. Dengan pintu bank yang terbuka lebar akibat sebelumnya telah pecah oleh tembakan senjata api yang dibawa mereka sehingga angin kencang dari luar dapat memasuki ruangan lobi bank ini dengan leluasa, aku mendengar salah satu dari kawanan perampok itu berkata kepada kawannya saat mereka memasukkan tas-tas berisi sejumlah uang yang baru mereka dapatkan itu.

“Sudah kubilang padamu, kan?” Ia berhenti lalu melanjutkan kalimatnya.
“Semuanya akan baik-baik saja. Jika tidak baik menurutmu, maka ini bukan akhir atas segalanya.”


Mobil itu lalu beranjak pergi.




Muhammad Al Ghifari
Februari 2016