Showing posts with label Logika. Show all posts
Showing posts with label Logika. Show all posts

Monday, March 30, 2015

Jalan yang Lain

Aku ini apatis, katanya
Yang meneriakkan perspektifnya di atas asap tembakau
Yang demi sebuah ToA ia mengunjukkan giginya, yang kuning
Yang tidak aku tahu bahwa ia pun tidak tahu

Ah, aku memang apatis, mungkin
Sebab opiniku tidak menerjang, menantang, menutup ruang
Sebab demokratisasi hanya akal tolol hasil berak berdarah
Sebab begitu pikir aku

Aku musuhmu, katanya
Yang berteriak salah atas kesalahan yang dipandang benar
Yang kuantitas mengalahkan kualitas, berat atas agitasi
Yang dirimu seperti ayam ternak hingga untuk akhirnya dipotong, mati

Ah, aku ini apa sih?
Sebab tidak sedikit jua dalih ini mengerti
Sebab aku akan tidak melirik peduli, atas omong kosong berbungkus angan
Sebab belum kenal aku padanya, Halikuljabbar

Yang aku mengerti, kemanusiaan ada di atas perspektifmu
Sebab perspektifmu mengagungkan babi demokrasi
Yang huru-hara engkau padankan atas perjuangan
Sebab aku engkau musuhi karena di sisi jalan lain


Muhammad Al Ghifari
Maret 2015

Monday, August 25, 2014

Sisi Mati

Perspektifmu atas gambaran aku yang kulukiskan dengan letih serta kepayahan di atas kanvas durja berwarna ceria akan tidak menempatkan posisiku berada di nilai presisi, setara, dengan kamu.

Aku akan tidak kecewa ketika sebelah pendengaranmu, penglihatanmu, beralih ke sebelah sisi yang lain dari aku atas hal itu. Aku sungguh akan tidak kecewa.

Gelak tawa terindah itu seandainya ingin kamu ketahui adalah berasal dari sisi mati aku yang terburuk.

Aku akan tidak terbebani, aku akan tersanjung -  dengan sebaliknya - pada segala perspektifmu terhadap aku seperti Yesus yang menunggangi keledainya ke Yerusalem, yang kemudian disambut oleh orang-orang yang menghamparkan jubah dan ranting-ranting baginya.

Sungguh, terima kasih, telah mendengarkanku dan memperhatikanku tiga per empatnya.


Muhammad Al Ghifari
Agustus 2014

Sunday, March 9, 2014

Terbalik

Kalau terbalik nanti membingungkan, atau bisa jadi jenaka.

Ya ya, kamu yang sekarang adalah kebalikan kamu yang dulu bukan? Ada masanya ketika kamu berada dalam suatu kenyamanan yang membuat kamu selalu tenteram, tetapi di sisi lain kamu merasa bahwa hal itu salah. Hingga akhirnya pada satu masa tertentu kamu membangun kembali diri kamu yang baru dengan sedemikian rupa terbaliknya daripada diri kamu yang dulu.

Kalau terbalik nanti kamu berubah?

Berubah bukan permasalahan bagiku. Karena kupikir ada baiknya kamu menjadi terbalik di saat ini, atau suatu saat nanti.
Supaya kamu bisa melihat dunia dari sebelah mata yang lain, supaya kamu memahaminya dengan sebagian kebalikan persepsi kamu yang biasanya.

Pada akhirnya semuanya berubah terbalik, supaya kamu tidak bingung. Atau kamu sudah cukup merasa jenaka?


Muhammad Al Ghifari
Maret 2014

Saturday, December 7, 2013

Cinta? Cemburu?

Cinta dan cemburu itu sama. Sama-sama tidak membutuhkan alasan untuk hinggap pada hati manusia. Bukan lah persoalan mengenai benar-salah keduanya eksis, ada di setiap atma  yang tak meminta. Bagaimana memanipulasinya supaya mustajab lah yang terpenting.

Cemburu mungkin karena cinta, cinta nantinya mungkin cemburu. Karena saat salah satunya hinggap, logika lesap. Kemudian ia menghambat kerja nefron di otak, sedangkan mempercepat laju adrenalin jantungmu itu. Akibatnya, hitam dan putih di sekitarmu lebur menjadi abu-abu.

Jangan jatuh cinta, nanti kamu cemburu. Jangan cemburu, nanti kamu buta karena cinta.


Sebab cinta dan cemburu itu sama. Sama-sama tidak membutuhkan alasan untuk hinggap pada hati manusia.


Muhammad Al Ghifari
Desember 2013

Renungan Jumat Pertama di Bulan Desember

“…bahwa sesungguhnya hanya manusia lah satu-satunya makhluk di dunia ini yang membayar untuk tinggal di bumi…”

Kita mungkin akan tertawa atau bahkan merenung setelah kita gali tesis ini lebih mendalam. Kalimat ini tentu bukan gurauan belaka, mengingat apa yang kita lakukan sehari-hari tidak lepas dari sebuah kegiatan membayar. Membayar. Tidak hanya untuk makan dan membeli segala sesuatu yang diperlukan untuk bertahan hidup, bahkan untuk membuang sisa-sisa proses ekskresi dalam tubuh pun kita harus tetap membayar!

Pertanyaannya adalah, mengapa?

Mengapa manusia saling membayar untuk saling memperoleh keuntungan? Kemudian, kemana kah perginya uang jika semua manusia membayar? Bukan kah jadinya uang tersebut hanya berputar-putar di satu lingkaran yang sama dalam siklus yang tetap? Jika demikian, apa gunanya uang?
Beberapa ekstrimis mungkin berpendapat bahwa uang sebagai simbol dari segala kerja keras kita untuk meraih sesuatu.

Merujuk pada salah satu teori  John Maynard Keynes (motif spekulasi) yang mengatakan bahwa: alasan spekulasi timbul karena adanya keinginan memperoleh keuntungan berdasarkan ramalan dan penghitungan pada masa yang akan datang. Logikanya adalah jika manusia saling membagikan kelebihannya masing-masing antara bidang satu dan yang lainnya, tanpa harus saling membayar, pada akhirnya semua akan tetap saling menguntungkan.

Dengan begitu semua karya dan karsa yang kita buat menjadi maksimal mengingat tidak ada kepentingan untuk harus membayar dan dibayar. Seni akan lebih mudah untuk dinikmati. Tujuan akhir pendidikan menjadi murni untuk saling memberi manfaat, bukan lagi untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya.

Tidak ada yang namanya ‘si kaya’ dan ‘si miskin’, tidak ada yang namanya penguasa dan yang tertindas. Tidak akan ada perang antar negara karena tidak ada kelaparan dan kemiskinan. Pemerintah dan rakyat masing-masing negara sibuk duduk bersama merancang tatanan negara mereka supaya maju, tidak ada lagi mosi tidak percaya karena hal-hal yang berkenaan dengan kekuasaan. Tidak akan ada dendam, tidak  akan ada hutang.

Tidak akan ada keburukan.

Muhammad Al Ghifari
Desember 2013